STRATEGI AKTIVITAS TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI CERITA PENDEK

STRATEGI AKTIVITAS TERBIMBING DALAM

PEMBELAJARAN APRESIASI CERITA PENDEK

Oleh:

 Dr. Rahman Said, M.Pd

 Pengertian Strategi Aktivitas Terbimbing

Pendapat yang mendasari penggunaan strategi aktivitas terbimbing dalam pembelajaran sastra adalah Rochem (1987:23) menyatakan bahwa strategi aktivitas terbimbing adalah strategi dalam pembelajaran sastra yang menggunakan respon terbimbing, yakni siswa memberi respon terhadap sastra menurut rangkaian kegiatan berikut:pembangkitan minat, mengaitkan/pemaduan, mendeskripsikan, menafsirkan, dan menilai. Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Applebee dan Langer yang menyatakan bahwa strategi aktivitas terbimbing (SAT) merupakan scaffolding (penyangga) apresiasi sastra.

Fungsi Strategi Aktivitas Terbimbing dalam Pembelajaran Apresiasi Cerita pendek

Beach (1987:125) menyatakan bahwa ada tiga fungsi utama strategi aktivitas terbimbing dalam pembelajaran sastra yakni: pertama, dapat membantu siswa belajar menggambarkan pengetahuan awalnya dalam membuat kesimpulan dengan menghubungkan pengetahuan dan pengalamannya dalam teks. Menghubungkan pengetahuan yang ada dalam teks, siswa memahami teks dengan baik. Kedua, untuk membantu siswa mengorganisasi struktur teks sehingga siswa memahami unsur-unsur cerita. Untuk memahami unusur-unsur teks sastra diperlukan kerangka terjadinya cerita, yaitu aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik. Aspek intrinsik cerita meliputi:cara pengisahan cerita, plot, penokohan, dan karakternya, setting, tema dan tendens cerita. Ketiga, untuk membantu siswa membuat kesimpulan isi cerita. Fungsi ini membantu siswa menafsirkan isi cerita berdasarkan pengalamannya terhadap pemahaman struktur cerita serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa.

Karakteristik Strategi Aktivitas Terbimbing dalam Pembelajaran Apesiasi Cerita pendek

Strategi aktivitas terbimbing adalah pola pembelajaran yang memberikan aktivitas siswa berinteraksi dengan karya sastra. Aktivitas tersebut tidak sama dengan menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan literal dalam buku ajar tradisional, dalam arti siswa menghubungkan berbagai kesimpulan setiap hipotesis yang muncul (Beach, 1987:126).

Dalam proses pembelajaran sastra melalui strategi terbimbing, guru memberikan kegiatan terbimbing dengan karakteristik pembelajaran yang dimulai tahap pelibatan (pembangkitan), pemaduan, penggambaran, penafsiran, dan penilaian karya sastra yang diapresiasinya.

Selanjutnya Beach (1987:128) menyatakan bahwa guru dapat mengembangkan berbagai aktivitas dengan karakteristik: (1) aktivitas merespon teks sastra secara sistematis melalui sejumlah strategi yang saling berkaitan, (2) guru dan siswa bersama-sama memahami dan menentukan tujuan pembelajaran apresiasi, (3) siswa diminta memberikan tanggapan secara terbuka tentang teks yang diapresiasinya, (4) memberikan tanggapan melalui tahapan strategi terbimbing, (5) tanggapan dilakukan secara sistematis, (6) tugas-tugas diorganisir menurut kerangka struktur teks, (7) siswa membahas dan memperbaiki hasil tanggapannya untuk mempersiapkan tanggapan berikutnya, (8) siswa menghubungkan pengetahuan, sikap, dan pengalamannya terhadap teks yang diapresiasi, (9) melalui pengarahan, siswa diberikan contoh-contoh yang jelas dan kongkrit, (10) siswa dapat melakukan tugas secara berpasangan atau berkelompok, dan (11) siswa menyusun hasil apresiasinya sesuai tingkat kemampuannya.

Prosedur Pelaksanaan Strategi Aktivitas Terbimbing dalam Pembelajaran Apresiasi Cerita pendek di Sekolah Menengah Pertama

Pembelajaran apresiasi cerita pendek di sekolah dasar dengan strategi aktivitas terbimbing diperlukan tahapan-tahapan yang mampu mengarahkan siswa mengapresiasi dengan baik. Beach (1987:143) membagi strategi respon terbimbing menjadi lima tahapan. Tahap pertama, pembangkitan adalah tahap membangkitkan perasaan siswa dalam menarik informasi dari teks cerita. Pada tahap ini siswa melibatkan diri dalam teks cerita. Dalam tahapan ini siswa menghubungkan skematanya sehingga tingkat apresiasi terhadap teks cerita semakin baik. Tahap kedua, pengaitan/pemaduan adalah tahap menghubungkan pengalaman, sikap, dan pengetahuan siswa terhadap isi cerita. Pada tahap ini siswa menyatakan sikap dan pengetahuannya tentang isi cerita. Pada tahap ini siswa menyatakan sikap dan pengetahuannya tentang isi cerita terhadap kenyataan yang ada dalam cerita. Selanjutnya tahap ketiga, yaitu mendeskripsikan adalah tahap menggambarkan isi cerita mengenai cara pengisahan tokoh dan karakter cerita, rangkaian cerita, latar, suasana, dan gaya bahasa pengarang. Pada tahap ini diharapkan siswa memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap cerita. Dengan kemampuan ini, siswa meyakini bahwa cerita itu adalah hasil pengalaman pribadi anak-anak yang ditulis oleh pengarang untuk tujuan tertentu dalam pembinaan kepribadian anak. Tahap keempat, pengintegrasian adalah tahap menafsirkan isi cerita dengan membuat kesimpulan isi cerita, memaknai pesan-pesan pengarang, melakonkan bagian-bagian tertentu dari adegan dalam cerita. Sedangkan tahap kelima, yaitu penilaian tahap penilaian siswa terhadap isi teks cerita dihubungkan dengan sikap siswa menyukai cerita, atau kaitannya dengan strukur cerita. Pada tahap ini siswa diminta komentarnya tentang isi cerita itu dan alasannya secara rinci kegiatan siswa dalam merespon teks cerita diuraikan sebagai berikut:

Tabel 2.1. Prosedur Pelaksanaan Strategi Aktivitas Terbimbing

Tahapan Strategi

Terbimbing

Aktivitas Siswa
Engaging

(pembangkitan)

1.      Keterlibatan siswa dalam cerita (membayangkan isi cerita)

2.      Siswa menanggapi cerita secara emosional tentang isi cerita

3.      Siswa membayangkan peristiwa cerita dengan bahasanya

Connecting

(pengaitan)

1.      Menghubungkan pengalaman siswa dengan teks cerita, misalnya kemiripan tokoh cerita dengan bahasanya

2.      Menghubungkan pengalaman siswa dengan karakter pelaku dalam cerita

3.      Menghubungkan sikap siswa dengan teks cerita

4.      Menghubungkan teks cerita yang serupa dan pernah dibaca/didengar siswa

Describing

(penggambaran)

1.      Menguraikan ciri-ciri pelaku

2.      Menguraikan latar/setting cerita

3.      Menguraikan rangkaian peristiwa dan suasana cerita

4.      Menghubungkan konsep-konsep menurut kesamaan makna

Interfreting

(penafsiran)

1.      Menjelaskan karakter pelaku berdasarkan ciri-cirinya, misalnya: kepribadiannya, keyakinannya, tujuan hidupnya

2.      Menyimpulkan maksud cerita dengan kata-katanya sendiri

3.      Menggeneralisasikan simpulan cerita dengan kenyataan yang serupa dalam kehidupan sehari-hari

4.      Memprediksikan hal-hal yang terjadi setelah akhir cerita

5.      Mengajukan pertanyaan mengenai teks mengemukakan/menjelaskan kesulitan memahami atau memaknai teks cerita, dengan alasan tertentu.

Judging

(penilaian)

1.      Membuat penilaian terhadap cerita secara keseluruhan.karakter pelaku, wawasannya, penampilannya dan kebiasaan hidupnya

2.      Membuat penilaian tentang teks cerita, misalnya: sukar/mudah dipahami bahasanya, unsur-unsur cerita, dan plotnya.

Meningkatkan pembelajaran apresiasi cerita dengan strategi aktifitas terbimbing diperlukan persiapan yang terdiri dari: (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan, dan (3) penilaian proses dan hasil pembelajaran.

Perencanaan Pembelajaran Apresiasi Sastra dengan Strategi Aktivitas Terbimbing

Perencanaan pembelajaran merupakan suatu program yang direncanakan oleh guru. Rubin menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran dapat memusatkan perhatian kelas, perencaan pembelajaran sangat vital bagi guru. Rencana pembelajaran merupakan skanario yang harus dirancang dengan tepat. Membuat rencana pembelajaran sangat membantu guru. Hal ini dikemukakan oleh Hamalik (2001:13) yang menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran dibuat untuk membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa dan mendorong motivasi belajar.

Berkait dengan perencanaan pembelajaran, Taba menyarankan bahwa dalam proses perencanaan, identifikasi aspek kebutuhan, pembelajaran, menjadi sangat penting. Tujuh langkah yang perlu dilakukan adalah: (1) mendiagnosis sejumlah kebutuhan, (2) memformulasikan tujuan, (3) memilih isi pembelajaran, (4) mengorganisasikan isi pembelajaran, (5) menyeleksi pengalaman belajar, (6) mengorganisir pengalaman belajar, dan (7) menentukan apa yang akan dievakuasi.

Perencanaan pembelajaran ini dituangkan dalam satuan pembelajaran. Menurut Kemp (1987:123) dalam mencapai hasil pembelajaran yang baik diperlukan empat hal yag harus diperhatikan oleh guru, yaitu: (1) siswa, (2) sarana, (3) metode, dan (4) evaluasi. Hal ini sejalan pendapat Beach dan Marshall bahwa kegiatan pembelajaran apresiasi sastra ada tiga hal yang saling berinteraksi, yaitu: (1) siswa, (2) guru, dan (3) teks sastra. Dengan interaksi ketiga hal tersebut, maka pembelajaran diharapkan berlangsung dengan baik.

Aminuddin (1996:6) menyatakan bahwa dalam merencanakan pembelajaran apresiasi cerita pendek, guru harus menempuh lima hal, yaitu: (1) merumuskan tujuan khusus pembelajaran sesuai dengan jabaran butir-butir pembelajaran dan tujuan kelas, (2) menyiapkan materi pembelajaran, (3) menyusun prosedur pembelajaran sesuai metode yang digunakan, (4) merancang pengelolaan kelas, dan (5) merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian.

Dalam merumuskan tujuan pembelajaran ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) berorientasi pada siswa, (2) merupakan hasil belajar, (3) dirumuskan secara spesifik dan jelas, (4) dirumuskan dengan istilah yang operasional, dan (5) dirumuskan dengan hanya mencakup satu jenis hasil belajar (Semi, 1990:20).

Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, guru menetapkan prosedur langkah-langkah pembelajaran. Penetapan langkah-langkah pembelajaran bahasa dan sastra sebaiknya mengacu pada pendekatan proses yang disarankan oleh Aminuddin bahwa tahapan pembelajaran dibagi menjadi tiga bagian yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut apresiasi.

Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Sastra dengan SAT

 Meningkatkan pemahaman siswa pada tahapan persiapan apresiasi, guru memodelkan apresiasi dengan strategi aktivitas terbimbing. Hal ini sejalan dengan pendapat Aminuddin (1999:20) bahwa dalam pembelajaran, guru mesti bertindak sebagi model. Fasilitator, pembelajaran, dinamisator, pengamat, dan peneliti dalam mengarahkan kegiatan belajar siswa. Pelaksanaan tahap persiapan apresiasi diharapkan berada pada tingkatan menggemari cerita.

Tahap pelaksanaan apresiasi diharapkan siswa menuju ke tindak apresiasi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Sochan bahwa untuk menuju apresiasi yang sesungguhnya tingkatan-tingkatan yang perlu dilewati adalah: (a) tingkat menggemari, (b) tingkat menikmati, (c) tingkat merespon, dan (d) tingkat produktif.

Ketiga tingkatan apresiasi tersebut dicapai melalui kegiatan guru memberikan bimbingan siswa mengapresiasi cerita dengan membaca teks cerita, memahami, menghayati, dan menikmati teks sastra. Hal ini sejalan dengan pendapat Aminuddin (1998:1) bahwa kegiatan apresiasi mencakup: (1) proses memahami dan menghayati cerita dalam berbagai bentuknya, baik melalui kegiatan menyimak maupun membaca, (2) kegiatan mengemukakan tanggapan emotif, (3) kegiatan mengemukakan pendapat berkaitan dengan penggunaan bahasa, perilaku, keputusan yang ditampilkan oleh tokoh, gambaran peristiwa pendapat yang secara langsung dikemukakan pencerita.

Memantapkan hasil apresiasi teks cerita siswa diperlukan aktivitas siswa melalui diskusi, kerja kelompok, dan curah pendapat berkaitan dengan hasil apresiasinya sejalan dengan pendapat Crafton bahwa berdiskusi dapat mendorong siswa untuk memperluas pengalaman terhadap cerita yang baru dibacanya. Kelompok diskusi turut menentukan keberhasilan diskusi. Menurut Semiawan bahwa pengelompokan dibagi atas dasar perkawanan atau kesenangan bergaul di antara mereka. Kelompok terdiri atas 4-6 orang yang menurut mereka merupakan kawan dekat.

Mendiskusikan isi cerita melalui kerja kelompok diperlukan tahapan pembelajaran secara sitematis. Hal ini dapat dilakukan melalui tahapan strategi aktivitas terbimbing yang dikemukakan oleh Beach (1987:30), yaitu dimulai dengan membangkitkan atau melibatkan emosi siswa, menghubungkan pengalaman dan pengetahuan siswa, mendeskripsikan cerita, menafsirkan cerita, dan menilai isi cerita. Dengan tahapan ini siswa terbangkitkan daya apresiasinya.

Moody menyatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran apresiasi cerita pendek meliputi: (1) pelacakan pendahuluan, (2) menentukan sikap praktis, (3) tahap introduksi, (4) tahap penyajian, dan (5) tahap diskusi. Selanjutnya Schuman menyatakan ada tiga fase dalam pembelajaran cerita, yaitu fase penyajian masalah, dan perumusan hipotesis.

Dalam prosedur pembelajaran apresiasi cerita diperlukan kegiatan berinteraksi langsung dengan teks cerita melalui kegiatan membaca, dengan memahami, menghayati, menikmati, dan memberikan tanggapan emotif pada cerita yang dibacanya. Dalam mencapai tujuan apresiasi tersebut digunakan strategi aktivitas terbimbing dengan lima tahap, yaitu: (1) pembangkitan, (2) pengaitan, (3) penggambaran, (4) menafsirkan, dan (5) menilai.

Memantapkan proses dan hasil pembelajaran apresiasi diperlukan tahap tindak lanjut. Pada tahap ini tindak lanjut diharapkan siswa berada pada tahap apresiasi yang baik, bahkan mampu memproduksi sastra, misalnya menceritakan kembali isi cerita dan memajangkan hasil kerjanya (apresiasinya)

Penilaian dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra dengan SAT

 Salah satu target hasil pembelajaran apresiasi sastra adalah meningkatnya kemampuan siswa dalam proses dan hasil mengapresiasi sastra. Fokus pembelajaran apresiasi cerita pendek ditekankan pada aspek: (a) emotif, (b) berfikir kritis, (c) imajinatif, dan (d) kreatif.

Penilaian merupakan proses yang sistematik dan bukan merupakan kegiatan yang final, tetapi kegiatan yang terus-menerus berlangsung disertai tindakan-tindakan. Menurut Pappas bahwa ada sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan dalam penilaian pembelajaran sastra, yaitu: (1) terlebih dahulu ditentukan apa yang akan dievaluasi, (2) memilih teknik evaluasi sesuai dengan tujuan, (3) evaluasi dilakukan komprehensif dan menyeluruh, (4) evaluasi sekedar alat untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri, dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan.

Penilaian dalam mengefektifkan pembelajaran apresiasi cerita pendek di kelas VII melalui implementasi strategi aktivitas terbimbing menekankan pada penilaian proses. Penilaian proses (assesment) sasarannya untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar siswa. Menurut Cox melakukan assesment dalam pembelajaran bahasa dimaksudkan untuk mengumpulkan, menganalisis, menyimpulkan, dan menginterpretasikan informasi tentang siswa untuk mengetahui performansi dan prestasi mereka.

Dalam pembelajaran apresiasi sastra, assesment sangatlah penting. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Beach dan Marshall assesment atau penilaian intergrited assesment metodologis yang ditandai oleh terdapatnya keragaman dan berbagai peluang pengembangan yang dapat memberikan informasi karakteristik proses, dan hasil belajar secara terpadu. Selanjutnya Herman menyatakan bahwa assessment sangatlah penting, baik assesing proses (penilaian proses) maupun assessing produk (penilaian hasil).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s