ARTIS TAK AKAN PERNAH JUJUR

Hari-hari ini kita dihebohkan beredarnya video mesum mirip artis. Publik pun langsung dihujani berita berbagai hal yang terkait dengan si artis. Kehidupan pribadi mulai keluarga, anak-anak, pasangan, bahkan para tetangga dibongkar habis. Terlebih lagi media senang dengan berita sensasional ini. Himbauan KPI berkali-kali agar tayangan tentang tema ini diminimalkan seakan tidak berarti. Publik tetap saja
dicecar berita sensasasional tersebut.

Bagi saya apa yang menjadi sensasi berita saat ini memang merupakan proses tanpa henti yang sudah berlangsung lama. Jika hari kemarin media hiburan dibiarkan secara bebas untuk mengaduk-aduk rumah tangga pesohor tanpa harus mengikuti kaidah pemberitaan secara ketat, pada akhirnya, berita-berita tersebut saat ini mulai menjadi biasa.

Bila kita sistematisasikan, pada awalnya berita sensasi itu adalah berita tentang putus atau jalinan hubungan antara artis muda. Kisah-kisah sebelum ikatan pernikahan mereka mewarnai media pemberitaan. Tahap berikutnya adalah berita tentang putusnya hubungan mereka.

Di sini, si artis mulai ditelisik kehidupan pribadi. Bahkan, seakan dipaksa, banyak artis mengaku bahwa ada orang ketiga, keempat, atau seribu alasan dibuat untuk mewarnai cerita tersebut. Padahal, bukankah sebagaimana jatuh cinta, seseorang juga bisa tidak cukup memiliki alasan ketika harus putus? Dan agaknya, logika itu tidak bisa diterima media hiburan.

Ketika berita jatuh cinta dan putus sudah menjadi biasa tahap berikutnya adalah sensasi pernikahan, bulan madu, dan sebagainya. Sama dengan yang di atas pada saat ini kedua pihak ‘dikuliti’ segala hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Ketika sudah menjadi biasa, maka berita perceraian menjadi sensasi di tahap berikutnya.

Ketika keempat hal tersebut sudah menjadi biasam maka sensasi media mencari lagi. Kebetulan pada saat yang sama, meredanya gosip perceraian, maka gosip perselingkuhan menjadi tema sensasional. Terlebih lagi jika kemudian ada bumbu lain yang lebih menghebohkan, yakni visualisasi perilaku mereka yang ceroboh dan akhirnya tercium publik.

Lalu bagaimanakah harusnya si artis? Ada dua pendekatan yang harus dilakukan.

Pertama, si artis jujur saja. Namun, hal ini akan berakibat banyak. Karir artis tersebut hancur. Banyak keluarga yang dikorbankan karena kejujuran dia, dan sejumlah hal negatif lain. Kedua, si artis bohong saja.

Saya setuju yang kedua ini. Mengapa? Ada beberapa alasan yang cukup penting. Pertama, banyak anak-anak, atau ibu-ibu mengidolakan artis. Ini memang kesalahan beruntun kita ketika ternyata si artis menjadi idola, menjadi public figure.

Dengan mengidolakan artis, banyak dari mereka yang kemudian meniru berbagai hal yang terkait dengan si artis tersebut. Bayangkan akibat sosiologisnya jika si artis jujur bahwa dia yang membuat video atau hal-hal tidak patut tersebut. Anak-anak meniru; ibu-ibu, bapak-bapak, yang mengidolakan secara membabi buta, membenarkan (minimal mengatakan bahwa itu ‘wajar’) tindakannya, dan seterusnya.

Tetapi, jika si artis bohong, maka dunia gelap tersebut tetap merupakan dunia terlarang, dan artis secara sosiologis tetap tampil sebagai sosok yang masih pantas diidolakan.

Kedua, dengan si artis berbohong maka kita dididik untuk memahami seseorang sesuai dengan kapasitasnya saja. Misalnya dia aktor/ aktris film. Yang kita nikmati adalah kemampuannya bermain peran dalam film yang dimainkannya. Biarkan kehidupan di luar film dia nikmati sendiri.

Atau dia seorang musisi, atau penulis, atau apa saja. Biarkan dia jadi manusia utuh bagi kehidupannya dan kita membiasakan diri untuk menikmati hasilnya saja. Tentu saja pandangan ini berat karena kita selalu membiasakan diri terlibat jauh dengan sesuatu yang di luar diri kita.

August Comte, sosiolog yang memelopori tradisi positivistik dalam ranah akademik, sudah dengan sangat baik menganjurkan kita membuat jarak. Meski saya tidak sealiran dengan Comte, namun dalam konteks di atas, saya setuju juga. Sebab, dengan membuat jarak, maka pandangan kita bisa obyektif terhadap sesuatu.

Keartisan adalah sebuah dunia. Dunia yang hadir di sebelah kita. Jika mereka pura-pura biarkan saja. Toh, ada saat mereka juga ada pada dunia yang sama dengan kita. Bohong mereka biarkan Tuhan saja yang mengadili. Bukan kita, bukan media, bukan pemirsa.

Libatkan kita untuk menikmati hasil karya mereka saja. Sedangkan di luar itu untuk apa kita membuang energi mengetahuinya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s