MARI PELIHARA KEJAYAAN KERATON BUTON

Mendengar nama Benteng Keraton Wolio tentu akan membuat kita memikirkan bagaimana benteng yang berdiri kokoh kawasan Keraton Kelurahan Melai itu bisa ada didaerah ini. Luasnya yang tak kurang dari 22 hektar melahirkan catatan emas bagi dunia yang mengakui Benteng itu dipastikan sebagai benteng terluas di djagat raya.

Benteng ini merupakan salah satu situs peninggalan sejarah terbesar di Pulau Buton. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga/kubu pertahanan (bastion) yang dalam bahasa setempat disebut baluara. Tiap pintu gerbang (lawa) dan baluara dikawal 4-6 meriam. Jumlah meriam seluruhnya 52 buah. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri. Jika menjelajahi separuh benteng, terdapat Masjid Agung dan bagian depannya terdapat tiang bendera (Kasulana Tombi). Konon kayu tiang bendera ini dulu dibawa oleh pedagang dari Siam (Thailand), yang selalu membawa cadangan kayu jati untuk memperbaiki bagian kapal yang rusak di perjalanan. Dan tiang bendera kayu jati ini masih awet hingga 300 tahun, karena dibangun di atas batu dan tidak menempel ke tanah, sehingga kayu selalu kering.

Tiang ini digunakan untuk mengibarkan bendera Kerajaan Buton yang disebut longa-longa dan ini artinya berwarna-warni, selain itu tiang bendera bersejarah ini juga sempat mengibarkan bendera Kerajaan Belanda, Jepang dan sang Merah Putih hingga sekarang. Tiang bendera ini pernah patah tersambar petir, namun kemudian disambung dengan baja, sehingga dapat berdiri kembali.

Membayangkan semua itu membuat saya terkagum, didalam benak terbisik daerah itu terlihat jaya di masa lalu. Terbayang sesekali ketika saya pulang ke rumah yang lokasinya ada di lingkungan itu, sengaja aku selalu memutar hingga berkeliling benteng dengan sepeda motor milik ku yang sudah sedikit pincang ketika mendaki tanjakan. Tampak meriam-meriam yang masih utuh berserakan di tiap dinding benteng. Pandang yang luas membentang sampai ke kelautan lepas yang berdiri beberapa pulau dan pegunungan, membuat saya membayangkan betapa tempat tinggal aku selalu dilindungi dari serangan musuh yang menyerbu kota ini karena meriam-meriam itu masih berdiri tegak dan siap menembak musuh yang ingin merebut daerah ini, walaupun kenyataannya meriam itu sudah tidak dapat difungsikan lagi sebagai peralatan perang.

1. Kawasan Benteng Mulai Tercemar

Percaya tidak percaya, kawasan benteng dengan panjang benteng 3 kilometer tinggi rata-rata 4 meter dan lebar (ketebalan) dinding mencapai 50 centimeter itu sudah mulai tercemari. Kawasan ini mulai dicemari dengan kegiatan-kegiatan yang berlawanan dengan adat dan budaya yang dijunjung tinggi masyarakat Wolio. Betapa tidak dalam rapat Komisi III DPRD Kota Baubau bersama instansi terkait dan perwakilan kecamatan se-Kota Baubau sempat dibahas benteng yang luas seluruh kompleks keraton yang dikitari benteng 401.911 meter persegi menjadi tempat aktivitas minuman keras. Tidak sampai disitu benteng ini juga tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk bersantai melihat kekayaan situs sejarah ditempat itu, namun pasangan muda-mudi sering memanfaatkan lokasi tersebut dengan nongkrong menyudut di tempat tersembunyi pada bagian benteng tersebut, sambil berpeluk erat disudut yang tak terlihat entah apa yang sedang meraka liat dalam kegelapan itu.

Kata Ketua Komisi III DPRD, La Ode Abdul Munafi dalam rapat tersebut, di kawasan keraton sering terjadi ajang balapan liar. Saya yakin hal itu benar karena dia memang warga setempat. Tidak hanya itu kawasan benteng yang menjadi roh budaya daerah ini ternyata terdapat aktifitas peternakan sapi dan kambing. Betapa lucunya ketika wisatawan asing atau lokal berkunjung dan melihat hal itu. Mungkin mereka akan berpikir kalau daerah ini masih tetap dipertahakan budayanya dengan asumsi di zaman dulu masyarakat mungkin saja berternak dan bertani di dalam benteng. Tapi apa itu budaya dan kebiasaan kita yang sebenarnya? Tentu kita sangat malu jika mereka mengetahui kalau itu ternyata tidak seperti yang diasumsikan.

Pengalaman setiap perayaan tahun baru, daerah ini menjadi lokasi untuk melihat kembang api yang diluncurkan pada malam pergantian tahun. Namun disisi lain tampak aktifitas sekelompok pemuda yang membuat lingkaran dengan memagang botol yang tak henti mengisi gelas yang dibagikan sesuai putaran lingakaran itu. Begitu juga pada perayaan hari Raya Idul Fitri maupun hari raya idul Adha, selepas shalat Id kita akan melihat suasana yang sama ketika mengintari daerah itu, bahkan mereka dengan santainya meminum miras bersama kelompoknya di atas benteng yang kokoh itu. Mungkin ketika kita melihat hal itu kita hanya bisa tersenyum, tapi sebenarnya sebagai warga yang bermukim di Keraton, seyum itu sebenarnya jeritan dalam hatiku. Bahkan jika kita melihat-lihat beberapa papan nama dan informasi situs sejarah yang sengaja dibuat pemerintah agar memudahkan wisatawan mengetahui situs tersebut justru telah bolong akibat dilempari batu oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, bisa jadi mereka yang mabuk setelah melakukan kegiatan miras dikawasan tersebut yang merusak itu.

“Kalau kita tanya orang mabuk yang ada dipantai kamali sana, mereka dari minum dimana??? dengan santainya menjawab kita dari minum di Ba’adia,” penggalan kata ini yang selalu saya kutip saat suasana rapat DPRD bersama perwakilan kecamatan dan instansi terkait.

2. Bagaimana Peran Tokoh Pemuda

Diskusi kecil yang saya coba lakukan dengan salah seorang anggota lembaga kepemudaan di Kawasan Keraton terkait masalah tersebut. Lembaga yang mengatasnamakan Benteng Generasi Butuni ternyata telah memikirkan masalah tersebut untuk coba meminimalisir imez masyarakat tentang kawasan benteng yang sering dijadikan tempat maksiat.

Ketua Umum Benteng Genari Butuni, Asrul Salam mengatakan keberadaan Benteng genarasi Butuni (Manganca Red) yang berdiri sejak tahun 2002 sebagai wadah yang melahirkan kreatifitas generasi muda yang kreatif yang berlandaskan pada nilai budaya luhur Buton khususnya di Kelurahan Melai. Namun lembaga tersebut mulai terstruktur dan dikukuhkan pada tahun 2010.

Keberadaan Benteng Generasi Butuni bertekat untuk meningkatkan kualitas generasi muda melalui berbagai macam kegiatan yang bernilai positif. Selain itu wadah tersebut bertujuan untuk menjadikan pemuda sebagai calon pemimpin dimasa depan serta mengambil bagian dalam memilihara dan mengamalkan nilai-nilai budaya luhur Buton.

3. Penjarahan Situs Budaya

Suatu kota dikatakan sebagai kota bersejerah apabila terdapat suatu situs arkeologis, tempat tinggal, arsitektur militer, bangunan pemerintah, karya rekayasa, ruang seni dan ruang publik, bangunan komersial, taman, situs keagamaan ataupun saujana budaya, industri dan ekonomi serta adanya bangunan-bangunan bersejarah.

Menurut saya Kota Baubau telah memiliki semua itu bahkan dalam benak saya terpikir Kota ini merupakan kota yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai satu dari 60-an kota bersejarah dunia yang sejajar dengan Afrika, Algeria, Accra (Ghana), Istambul (Turki), Amsterdam (Belanda), Cordoba (Spanyol), Roma (Italia), Paris (Perancis), Kyongju (Korea), Yangon (Myanmar), Katmandu (Nepal) dan sebagainya. Sayangnya, prestasi tersebut tidak lantas menjadi sebuah kebanggaan bagi sebagian masyarakat, Terbukti dari banyaknya situs budaya yang tidak terpelihara dengan baik. Kalau alam yang merusaknya saja dengan hujan, panas, suhu, gempa bumi dan lainnya bisa dimaklumi. Tetapi pada kenyataanya justru lebih banyak faktor vandalisme manusia dalam proses perusakannya. Alih-alih dilestarikan, pencurian, penjarahan dan pencoretan situs budaya malahan menjadi sesuatu yang biasa dilakukan. Buktinya saat penutupan rapat Komisi III DPRD Kota Baubau bersama instansi terkait salah seorang Sekcam melapor kepada pimpinan sidang bahwa terdapat salah satu meriam dilokasi benteng Sorawolio sudah kehilangan ganggangnya, katanya ganggang itu dipotong orang. Saya terkaget mendengar hal itu, peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya kok bisa sampai dicuri sedikit demi sedikit yang mungkin bila dijual dipenimbangan besi hanya seharga 1000 per kg. Bahkan jika kita melihat setiap lawa (pintu gerbang) yang ada di Benteng keraton sudah dipenuhi dengan coretan nama-nama orang yang mungkin saja pengen dikenal. “Orang kok namanya masuk dikoran tapi herannya nama mereka kok terbitnya dicagar budaya yang dilindungi,”

Tidak itu saja, renovasi atau restorasi yang tidak tepat situs budaya tersebut membuatnya semakin tidak terlihat. Bahkan kegiatan modern berupa perubahan gaya hidup menambah rusaknya peninggalan sejarah yang sangat bernilai itu. Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana mempertahankan dan menyelamatkan Keraton yang bentengnya mendapat predikat benteng terluas di dunia?????

Kita berharap semoga saja grendesain yang sementara disusun sebagai persyaratan untuk mengusulkan benteng keraton sebagai kawasan strategi nasional dapat memperbaiki imez benteng keraton yang mulai tergeser, serta upaya pelestarian dan semua pengembangan diharapkan akan banyak dana yang dapat diperoleh untuk terus mengembangkan dan melestarikan situs-situs budaya yang ada hingga predikat kawasan benteng keraton sebagai daerah yang bersejarah terus melekat secara kacamata padangan dan hati nurani.

Iklan

2 thoughts on “MARI PELIHARA KEJAYAAN KERATON BUTON

  1. Ya,,, itu adalah situs peninggalan Kesultanan Buton yang artinya tidak mengada-ada. Bahwa benar kita pernah mencapai kejayaan dan identitas diri. Tapi coba menoreh pada kondisi saat ini,,,,tidak ada apa-apanya kah, penghargaan apa yang diraih oleh mahakarya itu. Dan seingat saya, Kesultanan Buton belum pernah bubar sejak Indonesia Merdeka, hanya saja mengalami kefakuman perangkat dan Sultan…..untuk info seputar Baubau baca http://www.baubaupos.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s