KEKALAHAN ANDI MALARANGENG, BUKTI AROGANSI JAWA-SUMATRA

Hari ini menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu Tahun 2009 mengadakan kongres untuk memilih Ketua umum periode 2010-2015. Tiga calon ketua sejak awal dipastikan maju dalam pertarungan yakni Andi Alfian Malarangeng dari Sulawesi, Anas Urbaningrum dari Jawa dan Marzuki Alie dari Sumatra.

Andi Malarangeng yang dijagokan sebelumnya, secara mengejutkan harus tersingkir pada pemilihan putaran pertama yang hanya mengantongi 16 persen suara, sementara Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie tampil sebagai pemenang Pertama dan Kedua.

Kekalahan yang diderita Andi Malarangeng kali ini menjadi sebuah pelajaran bagi para politisi asal Sulawesi khususnya dan Indonesia Timur pada umumnya untuk selalu tampil hati-hati dengan strategi politik cerdik dan licin yang diterapkan oleh saudara kita dari Jawa dan Sumatra.

Bukan kali ini saja kekalahan yang dialami oleh politisi asal Indotim yang terkenal terbuka dan loyal, tapi sudah beberapa kekalahan dialami. Sebut saja kekalahan yang dialami oleh Jusuf Kalla yang bertarung dalam pemilihan presiden dan La Ode Ida yang bertarung menjadi ketua DPD, dan hasilnya selalu sama dengan Andi Malarangeng hari ini.

Memang masyarakat Indotim tidak pungkiri bahwa penduduk pulau Jawa dan Sumatra tidak sebanding dengan Indotim, tapi kita semua perlu terbuka bahwa Indonesia berdiri bukan hanya pada banyaknya jumlah penduduk tapi keindonesiaan yang berdiri sekarang ini adalah Indonesia dari Sabang sampai Merauke bukan antara Palembang dan Surabaya.

Dari fakta-fakta politik yang terjadi saat ini, masyarakat Sulawesi khususnya dan Indotim umumnya harus sadar diri mulai hari ini bahwa hak politik kita berada pada arogansi Jawa dan Sumatra. Olehnya itu jika suatu saat kita punya pandangan yang sama, maka sangat tidak tertutup kita dapat menentukan hak politik kita sendiri, tanpa terikat oleh arogansi politik milik kelompok lain.

Hari ini Andi Malarangeng kalah, dan merupakan kekalahan seluruh masyarakat Sulawesi dan Indotim yang harus dibayar dengan kesadaran untuk menyatukan pandangan melawan arogansi Jawa-Sumatra.

Iklan

9 thoughts on “KEKALAHAN ANDI MALARANGENG, BUKTI AROGANSI JAWA-SUMATRA

  1. Apakah anda lupa bahwa Habibie pernah menjadi orang nomor satu? Yusuf Kalla pernah memimpin Golkar?
    Anda ingin selalu dimanja,???? dan Cengeng?????
    Kenapa kalau Andi Malarangeng Kalah yang Notabene didukung penuh oleh Presiden RI yang Orang Jawa, dimana2 semua sepanduk menjagokan Andi Malarangeng, namun kenapa yang menang Anas yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh keluarga SBY? dan pada putaran kedua pun Suara Andi Malarangeng berusaha di Alihkan ke Marzuki ALi tapi kenyataannya tetaplah Anas.
    Ini bukan masalah Jawa dan NOn Jawa, Namun kemampuan seorang Annas yang menggalang kekuatan dengan mendatangi sebagian besar (hampir seluruh DPD/DPC), Annas lebih merakyat daripada Andi, Annas lebih siap untuk berkonsentrasi kepada ketua Umum dengan melepaskan keanggotaan DPR RI dibandingkan dua calon lain yg tidak memiliki komitmen melepas jabatannya

    1. dulu di pernah blng org bugis belum saatnya jd presiden. krn dia seorang penjilat mk dia mau blg bgt. Emang dia tuhan berani ngomong bgt? Semua tergantung dr usaha seseorang guna mencapai keinginan/cita2nya. Bisanya cuma jd penjilat,cengar cengir pamer kumis. dia itu public figur,kasih contoh kemasyarakat yg mendidik apalagi buat sukunya sendiri. Maksudnya dia tidak salah mmg hanya ucapannya kentara sekali mnrt saya hanya melambangkan ego dirinya shg menafikan jati dirinya sendiri .

  2. saya da teman2 (kita orang sunda tak suka politik, bukan jawa loh), iseng2 tebak2an, siapa yang bakal menang ketua demokrat ? hampir semua memperkirakan andi malarangeng bakal kalah, soalnya sudah tahu, ada situasi yang tak mau indonesia dipimpin oleh orang2 di luar suku jawa. eh tebak2an kami betul. ini sih cuma iseng aja, bukan ke urusan SARA.

  3. Bukan mudah untuk menjadi bangsa yang bermartabad setinggi Amerika Serikat yang mampu memilih Obama menjadi presidennya. Bangsa kita masih rasis, yang sedari kecil dididik untuk belajar membenci non ‘sesama’ sekalipun sesama Indonesia-sesama manusia.

  4. Saya kira, hal ini bukan cerita baru lagi.
    Terlalu banyak hal Indonesia timur selalu menadapat prioritas. Lihat saja arogansi pembangunan jembatan suramadu (tidak lama jembatan lintas jawa-sumatera), sementara saudara kita di Papua untuk menempuh jarak 100 km harus bermalam di tengah hutan berhari2. Terlalu tragis untuk dibayankan. Apalagi yg harus kita impikan di negara yg katanya NKRI.

  5. Saya kira, hal bukan cerita baru lagi.
    Terlalu banyak hal Indonesia timur selalu menadapat prioritas. Lihat saja arogansi pembangunan jembatan suramadu (tidak lama jembatan lintas jawa-sumatera), sementara saudara kita di Papua untuk menempuh jarak 100 km harus bermalam di tengah hutan berhari2. Terlalu tragis untuk dibayankan. Apalagi yg harus kita impikan di negara yg katanya NKRI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s