PENTINGNYA SIKAP NASIONALISME UNTUK MENCEGAH KORBAN GEMPA

alya1Mengejutkan…Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri (PM) Kevin Rudd pada Selasa, 20 Oktober 2009 sore ternyata tidak banyak menyinggung peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia dan Australia. Namun, justru lebih memfokuskan diri pada diskusi potensi kegempaan Indonesia. Selama hampir satu jam Rudd memaparkan kesimpulan riset geolog Australia mengenai potensi kegempaan di zona subduksi lepas pantai barat Sumatra dan Selatan Jawa.

Pembicaraan antar kepala pemerintahan ini yang gemanya tenggelam di tengah gegap gempita tarik ulur pembentukan kabinet baru dan heboh SMS gempa menarik untuk dicermati. Mengingat, belum lama berselang negeri ini diguncang dua gempa tektonik kuat dan secara akumulatif hampir seperempat juta manusia Indonesia sudah terenggut jiwanya akibat beragam gempa terhitung sejak tahun 2000.

Namun, pembicaraan itu juga musti disikapi dengan sedikit jengah. Karena, bahkan untuk urusan gempa pun kita musti menunggu sentilan dari ‘luar’ untuk sedikit lebih serius dalam memahami dan mengantisipasi dinamika bumi Nusantara. Masih adakah nasionalisme di sini ketika tanah air ini ternyata lebih banyak dipahami justru oleh tetangga seberang lautan kita.

Gempa tektonik pada dasarnya adalah lepasnya energi tektonik setelah terakumulasi sekian lama akibat dinamika lempeng tektonik. Seperti diketahui Indonesia adalah lokasi yang sangat istimewa di Bumi karena disusun oleh bertemunya lima lempeng tektonik besar. Masing-masing lempeng Eurasia yang kontinental beserta lempeng India, Australia, Pasifik, dan Filipina yang Oseanik.

Di negeri ini pula tumbuh dan berkembang dua lempeng tektonik kecil alias mikrolempeng. Masing-masing mikrolempeng Burma yang menyusun ujung utara Pulau Sumatera dan mikrolempeng Halmahera yang membentuk Maluku bagian utara. Interaksi dan dinamika ketujuh lempeng ini membuat sebagian besar tanah Indonesia sangat subur dan diberkahi mineral bahan tambang serta bahan energi melimpah –yang seandainya saja bisa dimanfaatkan secara maksimal akan sanggup menyejahterakan manusia Indonesia.

Namun, sebaliknya, dinamika itu pula yang membuat akumulasi energi tektonik tersebar di seluruh wilayah Indonesia –kecuali Kalimantan bagian barat dan tengah, sehingga berpotensi terlepas sebagai gempa. Pusat-pusat akumulasi energi tersebut secara garis besar terbagi dalam zona pertemuan antar lempeng (subduksi) dalam bentuk untaian palung laut dan di zona lemah pada satu lempeng yang nampak sebagai patahan.

Celakanya pusat-pusat akumulasi energi tersebut sejauh ini belum diketahui dengan baik di sebagian besar wilayah Indonesia. Ambil contoh Sumatera dan Jawa. Sumber-sumber gempa Sumatera relatif terpetakan dengan baik berkat kerja keras ilmuwan Indonesia dengan lembaga-lembaga riset mancanegara seperti dalam kampanye GPS-GPS (Global Positioning Systems – Geodynamic Project in Sumatra) maupun SuGAR (Sumatran GPS Array) di tengah kekurangpedulian pemerintah.

Di sini diketahui vektor gerakan lempeng India dan Australia tidak tepat tegak lurus terhadap orientasi Pulau Sumatera. Sehingga, akumulasi energi tidak dikelola sepenuhnya oleh zona subduksi. Namun, sebagian di antaranya disalurkan ke sistem patahan besar Sumatera dan Mentawai.

Patahan besar Sumatera yang membujur sepanjang 1.900 km dari lembah Semangko di selatan hingga kota Banda Aceh di utara terbagi dalam 19 segmen yang panjangnya 35 km hingga 220 km. Secara rata-rata terjadi 20 gempa (magnitude maksimum 7,7 skala Magnitudo) dalam 100 tahun di dalam patahan besar ini (Natawidjaja, 2007).

Sejak 1979, dari 19 segmen dalam patahan besar Sumatera 9 di antaranya telah melepaskan energinya dengan gempa terakhir pada 1 Oktober 2009 lalu pada segmen Dikit, dengan magnitude 6,6 skala magnitudo dan merusak ribuan rumah di Jambi. Sehingga, masih tersisa 10 segmen yang penuh timbunan energi tektonis yang tersebar secara acak di Sumatera bagian selatan, tengah, dan utara. Secara rata-rata suatu segmen akan melepaskan energi maksimumnya sebagai gempa setiap 100 tahun.

Sebaliknya zona subduksi Sumatera mempunyai kekerapan kegempaan lebih kecil. Rata-rata tiga gempa dalam 100 tahun. Namun, energi yang dilepaskan jauh lebih besar (magnitude minimal 8 skala magnitudo) dan senantiasa diiringi terjangan tsunami karena diikuti deformasi dan atau pelongsoran dasar laut. Di zona subduksi ini terdapat segmen Simeulue, Nias, Siberut, Sipora, Pagai, Enggano, dan Sunda. Setiap segmen akan melepaskan energinya sebagai gempa dahsyat (megathrust) dalam 200 – 250 tahun sekali secara rata-rata.

Sejak tahun 2000 sebagian besar energi zona subduksi Sumatera telah terkuras menyusul rentetan gempa megathrust 2004, 2005, dan 2007 kecuali segmen Mentawai yang baru berkurang sepertiganya saja dalam gempa 2007 sehingga masih terdapat potensi gempa besar dengan magnitude ~8,9 skala magnitudo di sini serta segmen Sunda yang sudah hampir seabad menimbun energi.

Namun, begitu masih terdapat ‘celah’ potensi kegempaan yang belum terpetakan. Seperti di sistem patahan besar Mentawai (panjang 1.000 km), punggungan (ridge) Wharton, Ninety East, dan Investigator serta sumber-sumber gempa dengan kedalaman 50 km. Gempa Padang 30 September 2009 misalnya terjadi pada lokasi yang belum terpetakan ini.

Tidak demikian halnya dengan Jawa. Meski merupakan pulau berpenduduk terpadat dan terpenting artinya secara politis maupun ekonomis sumber-sumber gempa di sini belum terpetakan sepenuhnya. Gerak lempeng Australia memang tepat tegak lurus orientasi Pulau Jawa sehingga sistem patahan besar tidak muncul di sini. Namun, rotasi Pulau Jawa dan Sumatera secara bersamaan –dengan pusat rotasi di kawasan Selat Sunda di mana Sumatera berotasi searah jarum jam dan Jawa sebaliknya, membuat patahan-patahan kecil dan pendek bermunculan di segenap penjuru Jawa Barat dan Tengah dengan sebagian di antaranya diduga aktif.

Untaian patahan Ujungkulon, Cimandiri, Lembang, dan Baribis di Jawa Barat, atau pun untaian patahan Citanduy, Kroya, dan Bumiayu di Jawa Tengah adalah contoh patahan aktif yang telah diketahui meski dinamikanya belum terungkap. Demikian pula patahan berusia tua yang sebelumnya diduga sudah mati. Gempa Yogya 2006 misalnya. Cukup mengejutkan karena ditimbulkan oleh reaktivasi sistem patahan Opak yang usianya 2 juta tahun. Jauh di atas batasan usia patahan aktif.

Sementara di zona subduksi Jawa hanya diketahui terdapat penimbunan energi tektonis yang sangat besar di kawasan Selat Sunda dan Jawa Tengah bagian selatan. Namun, bagaimana dinamikanya belum diketahui. Pun termasuk pengaruh patahan Ujungkulon (yang sejatinya merupakan perpanjangan patahan besar Sumatera) yang berujung di zona subduksi lepas pantai Pangandaran, yang sempat melepaskan sebagian energinya dalam gempa 17 Juli 2006 dengan tsunaminya yang menelan korban lebih kurang 600 jiwa.

Demikian pula dengan keberadaan gunung-gunung laut (seamount) tepat di sisi selatan palung laut di lepas pantai selatan Jawa. Belum lagi sumber-sumber gempa dengan kedalaman lebih kurang 50 km. Gempa 30 September 2009 silam misalnya. Terjadi pada kedalaman 80 km.

Demikian pula dengan gempa Ujungkulon 16 Oktober 2009, yang semula diduga merupakan pelepasan energi di patahan Ujungkulon, namun belakangan disimpulkan sebagai gempa dengan kedalaman sumber 50 km. Lebih ke belakang lagi, gempa kuat 9 Agustus 2007 (magnitude 7,5 skala magnitudo) misalnya. Secara mengejutkan terjadi di kedalaman 200 km pada posisi di Laut Jawa di lepas pantai Indramayu.

Jangan tanya pula dengan Indonesia bagian timur. Dengan distribusi keuangan, penduduk, dan kepentingan yang secara de facto hanya terkonsentrasi di Indonesia bagian barat. Kawasan ini pun menjadi terabaikan dalam segala hal. Termasuk pemetaan sumber-sumber gempanya. Padahal interaksi antar lempeng tektonik di sini jauh lebih kompleks sehingga potensi kegempaannya pun jauh lebih tinggi.

Bahkan, tsunami terdahsyat di Indonesia terjadi di sini dengan tinggi gelombang 70 meter sebagai akibat gempa dahsyat 1674 (estimasi magnitude kurang lebih 9 skala magnitudo) dalam sistem tektonik Buru – Seram. Sebagai pembanding, gempa besar 26 Desember 2004 yang menelan korban seperempat juta jiwa menghasilkan tsunami setinggi ‘hanya’ 34,5 meter.

Inilah yang kita hadapi. Kita hidup di bumi Indonesia yang kaya, indah, dan permai. Namun, distribusi akumulasi energi tektonisnya ibarat jigsaw puzzle besar yang kepingannya baru diketahui sebagian kecil saja. Kompleksitas bertambah karena suatu segmen sumber gempa, baik dalam zona subduksi maupun patahan, bisa melepaskan energinya lebih cepat ketimbang jadwal waktu yang diprediksikan manusia karena mendapat tambahan tekanan dari segmen sebelah menyebelahnya yang sudah terlanjur melepaskan energinya.

Gempa Nias 2005 (magnitude 8,7 skala magnitudo) misalnya terjadi 50 tahun lebih cepat dari ‘seharusnya’ sebagai akibat tambahan tekanan dari gempa dahsyat 2004 yang persis terjadi di segmen Simeulue yang persis berada di sebelah utaranya pada 3 bulan sebelumnya.

Tidak ada rumus praktis nan instan dan penuh elemen pencitraan untuk menyusun kepingan-kepingan jigsaw puzzle yang belum terungkap ini menjadi satu gambar utuh beresolusi tinggi yang bisa digunakan sebagai basis bagi simulasi dan mitigasi gempa. Terkecuali dengan memetakan lokasi-lokasi akumulasi energi tektonis ini.

Pemerintah SBY – Boediono mestinya memahami bahwa hal ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan bertanam tebu di bibir tanpa disertai dukungan kebijakan yang nyata. Pendanaan yang jelas dan rencana aksi yang konkrit perlu disusun satu skedul. Misalnya hingga 5 tahun ke depan, bahwa 60% zona sumber gempa Indonesia khususnya yang berdekatan dengan pusat-pusat pemukiman penduduk baik di kawasan Indonesia bagian barat maupun timur telah teridentifikasi dan dipetakan dinamikanya. Skedul semacam ini tentu membutuhkan ketersediaan sumber daya dalam bentuk instrumen (misalnya jejaring seismometer dan GPS yang rapat di satu sumber gempa) beserta sumber daya manusia yang mumpuni.

Keterbatasan instrumen dan sumber daya manusia untuk sementara waktu bisa diatasi dengan menjalin jejaring lebih rapat dengan negara-negara yang berdiri di garda terdepan dalam riset kegempaan. Namun, untuk jangka panjang mesti ada penekanan untuk mampu mencetak sendiri sumber daya manusia dan memenuhi instrumen yang dibutuhkan.

Demikian juga untuk jangka panjang (misalnya hingga 20 tahun ke depan). Mesti ada skedul bahwa 100% lokasi akumulasi energi yang potensial menjadi sumber gempa di Indonesia telah terpetakan. Hanya dengan peta distribusi akumulasi energi tektonis yang akurat dan beresolusi tinggilah mitigasi gempa bisa diselenggarakan dengan fokus.

Memanfaatkan semua media yang mungkin dan menjangkau satuan masyarakat yang lebih luas seperti di tingkat kecamatan atau bahkan hingga ke tingkat RT/RW, yang hingga kini masih meraba dalam gelap dan lebih sering menerima rumor akan gempa ketimbang informasi yang sebenarnya. Peta itu juga bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran di tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah.

Khususnya di SD dan SLTP sehingga akan tertanam dalam benak siswa mengenai potensi kegempaan di tanah tempat tinggal mereka dan apa yang harus dilakukan ketika gempa tersebut benar-benar melanda. Sebab, hanya pengetahuanlah yang bisa memerankan diri sebagai sistem peringatan dini bencana (early warning system) terbaik.

Mitigasi memang tidak akan menjamin manusia Indonesia akan mampu 100% menghindarkan diri dari ancaman gempa. Namun, mitigasi gempa sangat bermanfaat untuk mereduksi jumlah korban potensial dan sekaligus menyiapkan sarana dan prasarana yang memungkinkan untuk mengantisipasi suatu kejadian gempa. Sehingga, kita tidak perlu lagi tergagap-gagap terlalu dalam ketika guncangan benar-benar menerjang.

Seyogyanya, mitigasi gempa dipersiapkan dengan sistematis dan terorganisir. Sebagai bagian dari perjuangan panjang manusia Indonesia memahami bumi dan lingkungannya. Sebagai bagian dari nasionalisme Indonesia terkini guna mencapai tujuannya. Inilah saatnya pemerintahan SBY Boediono bekerja, khususnya lewat tangan Menristek, Mendiknas, dan Mensos. Janganlah harus menunggu lagi kedatangan Kevin Rudd atau bahkan Barrack Obama. Hanya agar kita bisa membuka mata akan potensi kegempaan Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s