SURVEI KEBIASAAN MEROKOK PADA SISWA SMA DI KOTA KENDARI TAHUN 2009

Siswa MerokokMerokok merupakan salah satu kebiasaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup atau life style ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor risiko dari suatu penyakit tidak menular. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok berat telah memulai kebiasaannya ini sejak berusia belasan tahun, dan hampir tidak ada perokok berat yang baru memulai merokok pada saat dewasa. Karena itulah, masa remaja sering kali dianggap masa kritis yang menentukan apakah nantinya kita menjadi perokok atau bukan (Bustan, 2000).

Efek langsung yang dialami oleh orang yang merokok misalnya: aktivitas otak dan sistem saraf yang mula-mula meningkat lalu kemudian menurun, perasaan euforia ringan, merasa relaks, meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung, menurunnya aliran darah ke anggota badan seperti jari-jari tangan dan kaki, pusing, mual, mata berair, asam lambung meningkat, menurunnya nafsu makan, dan berkurangnya indera pengecap dan pembau.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization), menyebutkan 1 dari 10 kematian pada orang dewasa disebabkan karena merokok dimana rokok ini membunuh hampir lima juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut, maka bisa dipastikan bahwa 10 juta orang akan meninggal karena rokok pertahunnya pada tahun 2020, dengan 70% kasus terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Pada tahun 2005 terdapat 5,4 juta kematian akibat merokok atau rata-rata satu kematian setiap 6 detik. Bahkan pada tahun 2030 diperkirakan jumlah kematian mencapai angka 8 juta. Merokok juga merupakan jalur yang sangat berbahaya menuju hilangnya produktivitas dan hilangnya kesehatan. Menurut Tobacco Atlas yang diterbitkan oleh WHO, merokok adalah penyebab bagi hampir 90% kanker paru, 75% penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan juga menjadi 25% penyebab dari serangan jantung (Rasti, 2008).

Universitas Texas Amerika Serikat telah melaporkan, bahwa telah ditemukan hubungan langsung antara merokok dengan kanker paru. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa benzo(a)pyrene dalam rokok antara 20-40 nanogram persatu batang rokok. Benzo(a)pyrene menyebabkan gen P53 (tumor suppressor genez) bermutasi, yang semula berfungsi melindungi sel dari kanker menjadi gen penyebab kanker. Kanker paru di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1996 menjadi penyebab utama kematian penyakit kanker dan termasuk jenis tumor yang umum ditemukan di seluruh dunia. Menurut data American Cancer Society, lebih dari 419.000 orang mati akibat kanker paru, dan 85%-90% berhubungan dengan merokok (Kelana, 2008).

Remaja adalah anak yang telah mencapai umur 10-18 tahun untuk perempuan dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki, atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal. Angka kejadian merokok pada remaja-remaja di Amerika Serikat pada tahun 2000 melebihi 25% dari angka kejadian merokok pada orang dewasa, dan dikatakan terdapat peningkatan sekitar 50% dari tahun 1988. Lebih dari 80% perokok mulai sebelum umur 18 tahun serta diperkirakan sekitar 3000 remaja mulai merokok setiap hari. Angka kejadian merokok pada remaja lebih tinggi di pedesaan daripada di perkotaan. Variasi etnis dan budaya dalam hal merokok mencerminkan interaksi yang majemuk antara pendapatan, harga rokok, budaya, stres, keturunan, umur, jenis reklame dan reklame rokok. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapatkan bahwa pada semua etnis, kecuali orang Amerika keturunan Afrika, angka kejadian merokok pada remaja lebih tinggi daripada angka kejadian merokok pada orang dewasa. Remaja wanita perokok jumlahnya lebih kecil dari remaja laki-laki perokok kecuali pada etnis kulit putih (Soetjiningsih, 2007).

Indonesia menempati urutan kelima di antara negara-negara dengan tingkat agregat konsumsi tembakau tertinggi di dunia. Indonesia mengalami peningkatan tajam konsumsi tembakau dalam 30 tahun terakhir, dari 33 milyar batang per tahun di tahun 1970 ke 217 milyar batang di tahun 2000. Antara tahun 1970 dan 1980, konsumsi meningkat sebesar 159%. Faktor-faktor yang ikut berperan adalah iklim ekonomi yang positif dan mekanisasi produksi rokok di tahun 1974. Antara tahun 1990 dan 2000, peningkatan lebih jauh sebesar 54% terjadi dalam konsumsi tembakau walaupun terjadi krisis ekonomi.

Lebih dari 43 juta anak terpapar asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan (ETS). Lebih dari setengah (57%) rumah tangga mempunyai sedikitnya satu perokok dalam rumah dan hampir semuanya (91,8%) merokok di dalam rumah. Diperkirakan bahwa lebih dari 43 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan sebagian besar (68,8%) perokok mulai merokok sebelum umur 19 tahun, saat masih anak-anak atau remaja. Rata-rata umur mulai merokok yang semula 18,8 tahun pada tahun 1995 menurun ke 18,4 tahun pada tahun 2001. Prevalensi pria perokok meningkat cepat setelah umur 10 sampai 14 tahun. Prevalensi merokok pada pria meningkat cepat seiring dengan bertambahnya umur: dari 0,7% (10-14 tahun), ke 24,2 % (15-19 tahun), melonjak ke 60,1 % (20-24 tahun). Remaja pria umur 15-19 tahun mengalami peningkatan konsumsi sebesar 65% lebih tinggi dari kelompok lain manapun (Depkes , 2003).

Faktor dari dalam remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja. Remaja mulai merokok dikatakan oleh Erikson (1989) dalam Komalasari (2007) berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami dalam masa perkembangannya, yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. Dalam masa remaja ini, sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidak sesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Upaya-upaya untuk menentukan jati diri tersebut, tidak semua dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai cara kompensatoris. Perilaku merokok bagi remaja merupakan perilaku simbolisasi. Simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya tarik kepada lawan jenis .

Remaja sebagai salah satu komponen generasi muda akan mempunyai peran yang sangat besar dan menentukan masa depan bangsa. Sebanyak 29% penduduk dunia terdiri dari remaja, 80% di antaranya tinggal di negara yang sedang berkembang. Berdasarkan data Badan Data Pusat Statistik 1996, sebanyak 22,6% penduduk Indonesia terdiri atas remaja (Narendra, 2002).

Download Selengkapnya : Bab I, Bab II, Bab III, BAB IV, Bab V, DAFTAR PUSTAKA, Depan dan Abstrak, Lampiran Lain, Lampiran, foto, kuesioner, Master Tabel xls

Iklan

9 thoughts on “SURVEI KEBIASAAN MEROKOK PADA SISWA SMA DI KOTA KENDARI TAHUN 2009

  1. mas kbetulan saya maw bwt skripsi tentang prilaku merokok pada anak usia smp…
    bisa minta daftar pustakanya mas??? klo bisa tolong kirim lewat email saya ya mas..

  2. ass…..
    saya sngat tertarik dengan survai ini,ini adalah menurt saya sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
    kalau tida keberatan saya minta dikimkan softcopy’a ke mail saya,,,, trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s