Noordin Muhammad Top Keturunan Jawa

noordin-m-top1Buruan polisi, Noordin M. Top, masih berkeliaran. Banyak yang menyangka warga Malaysia tersebut berbicara dengan logat Melayu. Padahal, Noordin fasih berbahasa Jawa. Bahkan, sejak dia masih kanak-kanak. Sebab, ahli perakit bom itu memang dibesarkan di lingkungan pendatang asal Jawa di Pontian, Malaysia.

RUMAH panggung bercat cokelat itu tampak berbeda dari bangunan lain di sekelilingnya. Berukuran 30 x 50 meter, menghadap ke selatan di tepi jalan desa yang membelah Kampung Melayu, Pontian, Malaysia. Berdiri satu meter dari tanah, dilengkapi AC, dan antena TV kabel Astro.

Garasi terbuka yang bisa menampung tiga mobil berada di samping kiri. ”Ukiran dan kayunya jelas ini bukan rumah orang Melayu kebanyakan,” kata Abu Bakar, warga Johor, yang mengantarkan Jawa Pos keliling Pontian.

Selasa siang lalu rumah itu tampak sepi. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Debu melapisi sebagian lantai kayunya, menandakan sudah cukup lama tak tersentuh sapu. Di rumah itulah Noordin M. Top menghabiskan masa remaja.

Kini rumah tersebut ditempati Arif, salah satu kakak Noordin, bersama anak dan istri. ”Sudah sebulan Pak Cik di Kuala Lumpur. Beliau sedang sakit jantung di hospital,” kata Aminah, tetangga rumah.

Perempuan 52 tahun itu mengatakan, sejak Noordin distempel sebagai teroris, kakak terdekatnya itu mulai sakit-sakitan. Arif yang berusia sekitar 50 tahun itu juga jarang di rumah karena sehari-hari bekerja di perkebunan sawit. Dia pemilik kebun sawit dan guru mengaji. ”Tapi, lebih baik saya tak banyak cakap tentang Pak Cik. Tak bagus lah buat saya,” kata Aminah.

Meski sudah tinggal di Pontian puluhan tahun, Aminah mengaku tidak kenal Noordin secara dekat. Sebab, Noordin tinggal dan sekolah di Pontian hanya sampai tahun ketiga di pendidikan menengah atau setara SMP. Noordin disebut putus sekolah karena pendidikan menengah di Malaysia enam tahun. Dia melanjutkan ke sekolah agama di Johor Bahru yang menyediakan asrama. ”Tapi, di akhir pekan dan liburan sekolah dia (Noordin) lebih sering di sini,” katanya.

Noordin besar di lingkungan keluarga agamis. Mohammad Top, ayahnya, keturunan Melayu pemilik perkebunan sawit. Kehidupan sosial ekonominya yang mapan memungkinkan Noordin mendapatkan pendidikan layak. ”Noordin lahir di Kluang, itu di rumah uwaknya (kakek, Red). Setelah itu baru pindah ke Pontian,” kata Aminah.

Pontian merupakan kota kecil di pesisir barat Negeri Johor. Letaknya di sebelah selatan Semenanjung Malaysia, berdekatan dengan Selat Malaka, Selat Johor, Sungai Pulai, Gunung Pulai, dan Sungai Tampok. Jaraknya kurang lebih 60 km dari Johor Bahru yang ditempuh dalam waktu satu jam berkendara.

Kota tersebut mayoritas dihuni warga keturunan Jawa. Konon, nama Pontian juga berasal dari pelesetan kata perhentian. Pontian memang merupakan bandar atau perhentian bagi kapal-kapal dan perahu yang menggunakan Selat Melaka yang menghubungkan Malaka dan Singapura.

Praktis, adat istiadat Pontian mendekati Jawa dan 80 persen warganya kerap berbahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. ”Kalau dibilang Noordin hanya bisa bahasa Melayu dan berlogat Melayu, itu bohong. Orang Pontian semuanya mahir berbahasa Jawa walaupun dia Melayu atau China sekali pun,” tegas Husin bin Suhairi, senior Noordin di Sekolah Kebangsaan Kayu Air Pasong, Pontian.

Memang, perbincangan di kedai, restoran, dan kampung di Pontian umumnya menggunakan bahasa Jawa ngoko. Mereka umumnya generasi ketiga keturunan pekerja kasar dari Kebumen, Ngawi, dan daerah pesisir pantura yang dibawa Jepang ke Pontian sebagai budak. ”Noordin termasuk anak yang pandai di sekolah. Tak heran dia tak canggung tinggal di Jawa sekarang,” kata Husin yang keturunan Kebumen.

Dia yakin budaya dan tradisi Jawa di Pontian membuat Noordin mudah beradaptasi dan tinggal di Jawa. Apalagi, kata dia, Noordin dikenal santun dan mudah merebut simpati. ”Perjuangan dia saya tak ada comment. Tapi, soal sosok dia, saya paham betul bahwa dia orang baik-baik,” kata Husin dalam bahasa Jawa.

Said, warga Pontian yang lain, mengaku sudah banyak lupa dengan sosok Noordin. Namun, dia sedikit ingat tentang ciri-ciri fisik buron polisi nomor satu itu. Kulit sawo matang dan tinggi besar. ”Kira-kira 180 cm lah tingginya. Dulu dia agak kekar juga. Sekarang tak tau lah, bisa juga dia jadi kurus karena dikejar polis Indon (polisi Indonesia, Red),” kata pria 55 tahun itu.

Dalam daftar most wanted di situs FBI tidak dijelaskan ciri-ciri fisik Noordin. Situs tersebut hanya memajang foto Noordin, tempat, dan tanggal lahirnya. Sejumlah item seperti warna rambut, tinggi, berat badan, dan warna mata hanya ditulis unknown. ”Yang pasti, dia berkacamata karena memang sejak sekolah penglihatannya minus. Tapi, sekarang bisa disiasati dengan contact lens,” kata Said.

Tetangga dan teman-teman kecil Noordin rata-rata punya pengetahuan umum dan teknologi cukup. Sebab, warga Pontian mudah mengakses informasi. Tak jauh dari rumah Noordin terdapat perpustakaan desa yang didirikan pemerintah setempat. ”Kami ini rata-rata berkebun sawit, jadi lebih banyak waktu luang. Itu kami manfaatkan untuk membaca dan mengaji,” kata Said.

Husin menolak tegas pandangan bahwa pendidikan agama di Pontian berpotensi membentuk Islam garis keras. Dia menegaskan, Islam yang berkembang dan diajarkan di Pontian layaknya Islam kebanyakan. ”Warga keturunan Jawa di Pontian lazim ikut aliran Ahlussunah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i,” katanya. ”Kalau Noordin itu kami sebut di sini aliran tabligh. Dia pun belajar itu setelah di luar Pontian,” lanjutnya.

Selepas pendidikan menengah, Noordin menempuh pendidikan di Universiti Technology Malaysia (UTM). Di sanalah dia berkenalan dengan Dr Azhari Husin. Keduanya, meski berbeda angkatan, sama-sama alumnus UTM.

Noordin merupakan mahasiswa yang cukup cerdas sehingga didaulat menjadi pensyarah alias dosen. Disebut-sebut bahwa almarhum Dr Azhari lah yang merekrut Noordin dan mendidiknya menjadi radikal. Noordin menjadi salah satu tokoh di jajaran top pimpinan Mantiqi I Jamaah Islamiyah (JI) yang beroperasi untuk wilayah Malaysia dan Singapura. Dia dituding berada di balik pembantaian dan banjir darah akibat serangan bom di sejumah tempat di Indonesia pada 2002-2009.

Noordin Beban Keluarga

Tekanan media internasional dan lokal terhadap Noordin M.Top membuat mertuanya, Rus­di Hamid, frustrasi. Kabar bahwa korban dra­ma penangkapan teroris di Temanggung, Jawa Te­ngah, bukan Noordin ditanggapinya datar saja.

”Biar takdir yang menentukan. Hidup atau mati, dia tidak memberi kesan kepada kami,” ungkapnya di kediamannya, Kampung Sungai Tiram, kemarin (12/8).

Pria 67 tahun itu menyatakan lebih mementing­kan menghidupi anak cucunya. Menurut dia, kelangsu­ngan hidup yang ditinggalkan Noordin di sana lebih penting untuk dijaga dengan bangun pagi dan bekerja menjajakan barang dagangan. ”Yang penting bagi saya adalah bagaimana memelihara anak-istri (Noordin, Red),” tegasnya.

Buron seharga Rp 1 miliar tersebut mening­gal­kan tiga anak hasil perkawinannya dengan putri kelima Rusdi. Masing-masing adalah seorang anak lelaki berusia 10 tahun serta dua anak pe­rempuan berusia sembilan dan delapan tahun.

Rusdi mengungkapkan, sejak Noordin meninggalkan rumahnya di Kampung Sungai Tiram 8-9 tahun lalu, keluarganya terus terbebani. Bahkan, Rusdi mengaku lelah karena kerap diintimidasi polisi Malaysia agar tidak berbicara kepada wartawan, terutama dari media asing. Karena itu, dia memilih melanjutkan hidup dan bertahan dengan keadaan yang sekarang.

Lalu, bagaimana kondisi istri Noordin se­karang? Rusdi menyatakan, Siti Rahmah su­dah ikhlas atas apa pun yang terjadi. Bahkan, istri Noordin tersebut sudah kembali ke Kampung Tiram dan mengajar mengaji anak-anak sekitar rumahnya. ”Dia ada dan membantu saya kerja berjualan,” katanya. (*/bersambung/cfu/iro)

Iklan

2 thoughts on “Noordin Muhammad Top Keturunan Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s