Pentingnya Keperawanan Wanita

PerawanDon tertunduk lesu, matanya terlihat berbinar-binar, kadang tangannya terlihat menyeka air matanya yang mulai merembes tak terbendung. Don baru tiga hari menikah, kabahagiaan, keceriaan dan kegembiraan tanda-tandanya tak terlihat diwajah Don. Seharusnya sebagai pengantin baru hala tersebut setidaknya terlihat diwajah Don, tapi kenyataan berkata lain isteri don, Rin tak nampak terlihat didekatnya yang ada hanya Don sendiri ditemani dua buah kursi plastik warna hijau.

Kesedihan Don ternyata sungguh sangat beralasan, tidak seperti pengantin lainnya, karena dimalam pertama didapatinya isterinya tidak perawan lagi, isterinya sudah pernah melakukan hubungan seksual selain dirinya. Lelaki mana yang tidak sedih, lelaki mana yang tidak kecewa mengalami nasib seperti yang dialami Don, akupun dapat merasakan sakit yang teramat pedih seandainya aku menjadi Don.

Keperawanan bisa diartikan sebagai wanita ataupun perempuan yang belum pernah berhubungan seksual dengan laki-laki. Atau juga boleh dikatakan Keperawanan adalah masih utuhnya hymen atau selaput dara pada diri perempuan tersebut. Hymen merupakan lipatan membran yang menutup sebagian luar dari vagina, umumnya berbentuk sabit dan hymen akan menjadi elastis (berubah bentuk) tatkala perempuan sudah mencapai usia pubertas.

Keperawanan memang bisa rusak selain melakukan hubungan seksual, antara lain terjadinya kecelakaan. Yang jadi pertanyaan apakah hymen (selaput dara) akan mengeluarkan darah waktu berhubungan intim untuk yang pertama kali ?, jawabnya “belum tentu”, hal ini terbukti dari survey yang dilakukan bahwa hanya 43% dari wanita yang menyatakan mengalami perdarahan waktu berhubungan seksual untuk yang pertama kalinya, yang artinya kurang dari separuhnya yang mengeluarkan darah sebagai salah satu tanda yang menyatakan seorang perempuan masih perawan ataukah tidak.

Tetapi yang lebih utama dari itu semua adalah kejujuran dari diri seorang perempuan, beranikah dia berkata jujur kepada calon suaminya bahwa dia tidak perawan lagi ? ataukah hanya diam membisu dengan berharap semoga calon suaminya tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Begitu juga dengan laki-laki, beranikah dia berkata bahwa dirinya tidak perjaka lagi dihadapan calon isterinya, ataukah juga berharap agar calon isterinya tidak sampai mengetahuinya ?. Suatu kekeliruan yang besar andai kita berkata bohong.

sumber :ttp://ziadinor.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s