MODEL RUMAH SINGGAH BERBASIS KREATIVITAS PERIKANAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN NONFORMAL BAGI ANAK-ANAK SUKU BAJO

Rumah Suku BajoPendidikan merupakan persoalan terpenting bagi semua ummat sebab pendidikan mampu mengembangkan individu dan masyarakat yang memiliki cakrawala berpikir kritis. Pendidikan juga merupakan alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat serta menciptakan generasi baru yang dapat berbuat banyak bagi kepentingannya.

Dunia pendidikan merupakan aset nasional dan sosial yang paling strategis dan realistis dalam usaha meningkatkan harkat dan martabat manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat menguak tabir kehidupan sekaligus dapat menempatkan dirinya sebagai subyek dalam setiap perubahan dan pergeseran misalnya pada aspek kultural.

Pendidikan dapat mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan penuh tanggung jawab menuju arah kedewasaannya sehingga tujuan dapat tercapai. Tujuan yang akan dicapai dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Bab II Pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, berilmu cukup, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan milik semua bangsa, milik semua masyarakat tanpa memandang strata sosial, ekonomi, agama, budaya dan ras. Pendidikan menjadi sumber kekuatan dalam era globalisasi dan pasar bebas karena tanpa pendidikan manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di “lautan lepas” dapat tersesat jika tidak memiliki kompas sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya. Begitu halnya dengan hubungan pendidikan dengan lapangan kerja sangat linear dan memiliki keterpaduan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan antara sub komponennya. Apabila arus pendidikan tidak mampu menembus dimensi lapangan kerja, maka mengakibatkan hubungan yang tidak linier antara pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja, karena apa yang terjadi di lapangan kerja sulit diikuti oleh dunia pendidikan, sehingga terjadi kesenjangan. Untuk mengantisapasi hal ini maka pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Syamsinar, 2008).

Suatu kenyataan bahwa pendidikan sudah dinikmati masyarakat, program pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan sentuhan pendidikan frekuensinya sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan ditingkatkannya dana pendidikan sebesar 20% oleh pemerintah. Bantuan pendidikan dana BOS sangat membantu manajemen pendidikan. Begitu halnya dengan program Gubernur Sulawesi Tenggara “Bahteramas” memberikan ruang bagi dunia pendidikan untuk akses dan eksis di masyarakat. Tentunya, kebijakan pemerintah ini dapat membawa angin surga bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. Akan tetapi, suatu hal yang miris bahwa anak-anak suku Bajo yang bermukim di wilayah pesisir sampai hari ini masih belum menikmati manfaat pendidikan secara merata. Dari aspek kualitas maupun kuantitas pendidikan masih sangat terbatas, slogan sebagai komponen anak bangsa yang minim dalam menikmati pendidikan sampai kejenjang yang lebih tinggi melekat erat dalam tubuh anak-anak suku Bajo. Hal ini akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia yang sentrumnya adalah ketidakberdayaan dalam mengelola sumberdaya perikanan.

Sampai saat ini, kondisi pendidikan Sulawesi Tenggara, partisipasi sekolah hanya mencapai 64%, namun khusus untuk suku Bajo hanya mencapai 0,5%. Hal ini disebabkan masyarakat suku Bajo lebih memilih untuk mengikuti tradisi nenek moyang mereka sebagai nelayan secara turun temurun.

Suku bajau atau suku Bajo banyak berdiam di perairan Sulawesi dan kepulauan sekitarnya. Pemukiman suku Bajo memang banyak di sekitar pulau Sulawesi. Antara lain perairan Manado, Kendari dan Kepulauan Wakatobi (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko).

Dengan wilayah laut yang lebih luas tentu saja kekayaan hayati menjadi beragam. Di perairan Sulawesi Tenggara saat ini terdapat banyak jenis Ikan, Kerang-kerangan dan bermacam-macam hewan laut lainnya yang hidup berkembang biak. Ini tentu saja dimanfaatkan oleh penduduk yang hidup di daerah pesisir pantai maupun penduduk yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan termasuk masyarakat suku Bajo. Masyarakat suku Bajo yang berprofesi sebagai nelayan tidak semua memiliki kehidupan yang sejahtera. Hal ini disebabkan nelayan suku Bajo tergolong nelayan tradisional dan anak-anaknya sedikit mendapat sentuhan pendidikan dan jangan heran kalau anak-anak suku Bajo buta aksara dan buta huruf. Hal ini akan berdampak terhadap masa depannya dan juga masa depan sumberdaya perikanan.

Salah satu contoh yang menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan bagi anak-anak suku Bajo adalah anak suku Bajo yang terdapat di desa Labotaone Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan. Wilayah tersebut merupakan daerah pesisir yang salah satu komunitas masyarakatnya adalah suku Bajo. Keadaan pendidikan anak-anak suku Bajo di wilayah tersebut sangat memprihatinkan, karena 96% anak suku Bajo usia sekolah tidak mengenyam pendidikan, walaupun orangtua dari anak-anak suku Bajo ini menghendaki anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain jauhnya fasilitas sekolah dari perkampungan mereka. Untuk sampai ke sekolah yang terletak di pusat desa mereka harus naik perahu (mendayung) sendiri karena orang tua mereka pergi mencari makan yang memiliki resiko kecelakaan yang cukup besar karena apabila ada gelombang yang besar perahu mereka terbalik dan anak-anak tersebut hanyut dibawa gelombang. Selain itu, mereka biasanya malu untuk bertemu dengan masyarakat banyak dan daya dukung ekonomi yang terbatas, sehingga anak-anak suku Bajo tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di desa tetangga. Berdasarkan pemikiran diatas maka untuk menjawab tantangan pendidikan suku Bajo dan untuk memajukan kehidupan masyarakat suku Bajo di berbagai aspek khususnya aspek pendidikan, maka dibutuhkan suatu wadah atau tempat yang bisa menampung anak-anak Bajo tersebut untuk mendapatkan pendidikan seperti model rumah singgah sehingga suatu saat suku Bajo maju secara ekonomi dan pendidikan.

Salah satu program pendidikan yang berbasis kreativitas perikanan yang bersifat nonformal seperti rumah singgah dimana merupakan wadah/tempat belajar bagi anak-anak yang mengenyam pendidikan program ini, memiliki asas manfaat dan motivasi pendidikan yang besar bagi anak suku Bajo. Program ini juga mendukung visi gubernur dalam membebaskan anak bangsa di jazirah Sulawesi Tenggara dari keterbelakangan pendidikan. Lomba karya tulis ilmiah merupakan salah satu wahana penyaluran informasi dalam penguatan eksistensi model rumah singgah berbasis kreativitas perikanan, sehingga diharapkan adanya komitmen dan respon positif dari banyak pihak untuk peduli terhadap pendidikan anak Bajo karena mereka adalah sama seperti anak suku lainnya yang butuh pendidikan dan kesejahteraan hidup.

Selengkapnya :

Isi Karya Tulis

Kata Pengantar

Iklan

One thought on “MODEL RUMAH SINGGAH BERBASIS KREATIVITAS PERIKANAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN NONFORMAL BAGI ANAK-ANAK SUKU BAJO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s