Emansipasi Kartini, Emansipasi Poligami

kartini_11Tiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Wujud penghormatan kepada Raden Adjeng Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia. Beliaulah yang mendobrak belenggu terhadap wanita. Dulunya wanita hanya dianggap sebagai konco wingking atau tukang masak, sehingga tidak perlu bersekolah. Namun berkat perjuangan Kartini, wanita Indonesia mendapat pengakuan dan kedudukan yang sejajar dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama dalam segala hal.

Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini, sebenarnya lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan pkiran. Pada masa itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan.

Emansipasi wanita/perempuan kerap disalah artikan oleh sebgaian dari kita, yaitu dengan mengejar karir setinggi langit, kesetaraan jender yang kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Padahal sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua terlebih mengorbankan kodratnya sebagai perempuan adalah kekalahan bagi perempuan yang paling telak.

Kodrat perempuan yang lazim kita kenal adalah bahwa setelah seorang perempuan menikah, kemudian akan mengurus keperluan suaminya, melahirkan anak dan menjaganya hingga dewasa. Bentuk kehidupan bagi sebagaian perempuan seperti di atas adalah salah satu bentuk kebahagian yang paling alami, namun bagi sebagian yang lain bentuk kehidupan tersebut adalah pengekangan dimana wanita tidak bebas bergerak dalam menentukan hidupnya sebagaimana laki-laki.

Kartini diperistri oleh seorang Bupati penganut Poligami, namun kartini tetaplah kartini. Dia tidak pernah mempermasalahkan suaminya mengawini wanita lebih dari satu. Sekarang ini banyak kartini-kartini baru yang banyak menuntut gender tapi tidak siap dipoligami oleh suaminya. Seandainya wanita Indonesia mengidolakan Kartini selayaknyalah mereka setuju dengan Poligami meskipun Poligami adalah sesuatu yang berat untuk seorang istri.

Iklan

3 thoughts on “Emansipasi Kartini, Emansipasi Poligami

  1. Harus dibedakan antara ranah-ranah yg menjadi perseteruan gender itu sendiri. di dalam aturan eneah sosial, agama, budaya pun telah diatur maka kita harus menanggapi sesuai porsinya, jgan setengah2x…tidak ada bagian dari budaya, agama,bagian manapun yg “tegas melarang” ttg perempuan, ya mungkin hanya persepsi sja jika terdapat salah paham

  2. kesetaraan gender itu sangat baik… namun dalam pelaksanaannya seringkali disalah artikan baik oleh kaum perempuan maupun laki-laki… justru usaha untuk saling mengerti batasan dan batas-batas kemampuan masing-masing, menghormati pendapat dan pandangan, saling berbagi dan melindungi, terkadang tersisihkan oleh rasa dan perasaan bahwa mereka lebih baik, lebih hebat, atau lebih-lebih yang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s