Duet SBY-JK Lagi! Mungkinkah?

sby-jk-berbisik-ke-mulutPerhitungan sementara hasil pemilihan umum legislatif memberikan gambaran jelas tentang perubahan peta politik di tanah air. Gema teriakan ingin menjadi presiden kini mulai surut. Kaki para macan mulai menapak ke bumi. Dapatkah duet SBY-JK dilanjutkan dalam pilpres 2009?

Bila saja hasil perhitungan cepat atau quick count yang dilakukan oleh 4 lembaga survei diasumsikan sebagai suatu kebenaran, maka ainul yakin SBY boleh berkibar di atas angin. Masih ingat kan, tanggal 9 April malam di Cikeas Presiden SBY tidak meremehkan hasil telaah ilmiah tersebut. “Kita harus tetap menunggu hasil perhitungan resmi oleh KPU,” katanya.

Bak air sejuk di tengah padang pasir, kabar gembira itu tidak pernah surut. Menguat dari waktu ke waktu. Partai Demokrat yang baru lahir menjelang pemilu 2004, kini menjadi jawara dan merajai. Bila pemilu lima tahun lalu saja sudah menghempaskan harapan Megawati, maka langkahnya kali ini pastilah lebih tegap. Inilah salah satu partai spektakuler dalam sejarah perpolitikan nasional yang kelihatannya ingin dimakmumi oleh Partai Gerindra dan Hanura.


Beberapa faktor yang diperkirakan mendorong SBY akan mudah melenggang ke kursi presiden pereode keduanya dapat dirunut dalam beberapa realitas politik paling mutakhir. Pertama, dalam pilpres, pemilih biasanya akan lebih memperhatikan figur dan banyak menafikan partai. Pada pemilu legislatif 2004 boleh jadi Demokrat belum laris manis, tapi SBY terbukti laku bak kacang goreng. Nah, determinan kedua menyatakan, melalui pileg 2009, Demokrat kini diperkirakan mengantongi mandat paling besar sebagai konsekuensi dari figur SBY dan kepemimpinannya.

Sinyalemen ini terbukti dari banyaknya contrengan yang diarahkan pada partai Demokrat (bukan pada nomor dan nama caleg). Artinya, dalam pileg terakhir, diperkirakan mereka memilih Demokrat karena
faktor SBY, bukan caleg.

Tapi jangan lupa, baik pilpres 2004 dan 2009 mendatang, SBY tidak bisa jalan seorang diri. Faktor kemenangan pilpres 2004 juga antara lain dikarenakan adanya figur pendamping yang dinilai pas, cerdas dan cekatan, yakni JK. Apalagi, JK saat itu juga membawa gerbong terbanyak pada kursi legislatif. Sebagai pemerintah, SBY boleh dibilang aman dari usilan lawan. SBY mendapat JK sama dengan the dreams come true atau orang Jawa bilang tumbu entuk tutup.

Kalau melihat capaian spektakuler pada pemerintahan SBY selama 5 tahun terakhir, diantaranya lahir dari campur tangan dinginnya JK. Nalurinya sebagai pedagang yang diterapkan dalam menyelesaikan masalah dinilai jitu dan efisien. Caranya membereskan persoalan tidak bertele-tele alias potong kompas. Itu juga yang menjadikan Poso, Ambon dan Aceh kini menjadi jauh lebih tenang bagi pembangunan. Tidak hanya itu, konon kabarnya, konsep BLT-pun banyak diilhami dari saudagar yang satu ini. Di atas semuanya, tentunya mendapat restu dari sang nomor satu.

Dalam sebuah cerita penyelesaian konflik di Ambon misalnya, ada sekelompok yang berseteru yang ingin melakukan buying time. Dengan sigap, JK mengatakan bahwa untuk pertarungan dan peperangan memang perlu persiapan namun untuk perdamaian harus disegerakan (tidak boleh ditunda). Ketika kembali disoal bahwa penarikan ‘pasukan’ tidak diinginkan menggunakan mobil militer, maka JK-pun tidak kurang akal, segera dia memerintahkan mengganti nomor dan warna truk tentara untuk keperluan evakuasi.

Alasan Perkawinan Jilid Kedua

Kalau saja peningkatan suara dan kemenangan Demokrat boleh diartikan sebagai suatu bukti kepercayaan rakyat atas keberhasilan pemerintahan SBY, maka pastilah JK memiliki andil di dalamnya. Itulah sebabnya, dalam kampanye lalu antara keduanya tidak saling menyerang karena berada pada biduk yang sama. Satu pegang kemudi, yang lain melakukan kontrol di buritan. Tentu lain dengan suara PDIP yang memang di luar arena sehingga terkesan berbenturan dengan SBY yang ada di pemerintahan.

Memang repotnya, kini antara kedua macan itu terlanjur menyatakan akan berlaga dalam kontes pilpres Juli 2009. Di sisi lain, Megawati dengan PDIP-nya masih saja bersemangat untuk meraih kembali kedudukan tertinggi di pemerintahan setelah tahun 2004 digulung mantan menterinya. Perhitungan berdasarkan asumsi hasil pileg lalu menjadi tambah kompleks mengingat kemungkinan tidak ada kemenangan mayoritas. Tiga macan kini harus mengatur strategi paling gres guna pencapaian kemenangan.

Demokrat pasti tidak akan melengang sendirian. Dari nada yang sering terdengar di layar kaca, ia mungkin akan menggaet partai yang lumayan besar. Bisa jadi seperti PKS, PAN dan PKB. Selain itu, bila sedikit bermain dengan partai kecil lain, terdapat probabilitas kursi presiden akan relatif mudah disabet.

Bagi Golkar, sekali lagi bila mengaca pada hasil sementara quick count, keadaan lebih repot. Dengan perolehan 14 persen saja maka maju ke ruang kontes pilpres menjadi kikuk. Jalannya kurang pede. Satu-satunya cara terbaik, bila tidak kembali dengan SBY, adalah bergabung bersama Megawati sehingga mengantongi setidaknya 30 persen suara. Bila ditambah Gerindra dan Hanura serta beberapa lainnya misalnya, maka terjadilah koalisi dengan jumlah suara lebih dari 50 persen. Ingat, perolehan PDIP mengalami penurunan tajam dalam dua pileg terakhir lebih 30 persen ke 18 persen
dan kini 14 persen. Kekikuan Mega sama persis yang dialami oleh JK.

Residu yang mungkin belum bisa terpecahkan hingga saat ini dalam koalisi JK-Mega adalah, siapa yang mau mengalah menjadi Wapres. Maukah Mega mengalah bila perolehan pilegnya dibawah Golkar? Sangat sulit menjawabnya.

Meskipun begitu, bila dua kubu itu saling menyatukan diri, maka masing-masing memiliki potensi untuk memenangi pilpres mendatang. Kalau saja itu terjadi, maka terdapat perhitungan kasar bahwa pileg cukup satu putaran saja, sehingga energi nasional tidak banyak lagi terkuras.

Namun, sekedar menang dalam pilpres bagi salah satu kubu tersebut bukanlah jaminan keselamatan. Bila kubu JK-Mega memegang tampuk kekuasaan, maka goyangan dapat terus berlangsung dari kubu SBY dkk yang jumlahnya juga pada kisaran 50 persen. Sama saja, bila kubu SBY menang, maka kubu JK-Mega bisa saja menjadi tantangan dan akan membuatnya termehek-mehek sepanjang masa pemerintahan.

Nah, yang paling maslahat menurut hemat pribadi saya adalah kembalinya dua sejoli, SBY-JK. Dalam perkawinan jilid dua ini tentulah SBY yang akan kembali memegang kemudi dan JK menjadi kondektur yang cerdik. Gabungan dua kekuatan plus beberapa pengikut lainnya maka gerbong ini mampu mengusung lebih dari 60 persen suara baik di DPR maupun saat pilpres.

Meskipun tidak semudah membalik tangan, perkawinan SBY-JK jauh lebih mudah dilakukan dibanding katakanlah SBY-Mega. SBY-JK hanya perlu melakukan duduk bersama untuk melakukan evaluasi secara jernih perjalanan mereka selama 5 tahun terakhir berdasarkan kontrak politik yang pernah dilakukan. Ini semua tentu agar roda pemerintahan yang mendapatkan mandat rakyat tersebut berjalan lebih efektif bagi kemajuan bangsa.

Perkawinan SBY-JK jilid kedua sangat menguntungkan rakyat. Hal ini karena pemerintahan tersebut relatif stabil, sebagai konsekuensi jumlah anggota DPR yang terbentuk bisa melebihi dari 60 persen. Selain itu, selama 5 tahun mereka telah merajut pengalaman dan bahkan dalam batas tertentu dinilai ‘berhasil’ oleh rakyat. Di sisi lain, PDIP dan yang lainnya dapat kembali menjadi pengontrol yang baik (oposisi) bagi jalannya roda pemerintahan sebagaimana yang dilakukan selama ini.

Terlepas berbagai masalah yang pernah dialami dalam perkawinan jilid pertama, maka melakukan islah merupakan hal yang paling baik dan disarankan. Demi rakyat, semua ego harus dinafikan. Bahkan sebagai orang Jawa, SBY pastilah bisa bersikap ‘menang ora ngasorake’. Wallahu a’lam bissowab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s