Golkar Dalam Dilema

jusuf-kallaPartai Golkar menghadapi dilema. Detik-detik menjelang Pemilu Legislatif, partai beringin ini memproklamirkan diri akan mengusung capres dengan harapan suara partai terdongkrak. Namun ternyata perolehan suara malah jeblok.

Andai Golkar tidak mengumumkan ketua umumnya, Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres, kondisinya mungkin tak serumit seperti sekarang ini. Seolah-olah, kini Golkar harus ‘menjual murah’ demi untuk bersanding kembali dengan SBY dalam Pilpres 2009.

“Kalau memang persyaratan positioning partai Golkar harus di cawapres, tidak ada salahnya juga,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Surya Paloh usai menghadiri Rapat Konsultasi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jl Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta, Kamis (16/4/2009) malam.

Ungkapan pesimistis juga diutarakan langsung oleh JK. Pria asal Makassar ini berujar, kalau hampir tak mungkin Golkar maju sebagai capres dengan perolehan suara sementara yang tidak beranjak dari angka 14 persen.

“Opsi sekarang tidak banyak tapi belum diputuskan. Dengan suara 14 persen tentunya harus koalisi,” kata JK.

Lantas, koalisi dengan siapa? Baik Surya Paloh atau pun Ketua DPP Partai Golkar, Yorrys Raweyai, sepakat agar Golkar berkoalisi dengan partai yang memiliki peluang besar untuk menang. Partai apalagi kalau bukan partainya SBY, Demokrat.

Dalam Rapat Koordinasi semalam, Golkar tidak memutuskan apa-apa. Padahal, rapat yang diduga akan berlangsung alot itu akan mengerucut pada apakah JK akan terus maju sebagai capres Golkar atau cukup sebagai cawapres saja. Tak cuma itu, beberapa nama cawapres dari Golkar juga muncul selain JK.

Pertanyaannya, kenapa Golkar tak segera mengumumkan capres atau cawapresnya? Pada 23 April 2009 sebenarnya pertanyaan itu akan terjawab. Mengingat pada tanggal itu Golkar akan mengumumkan sikap resminya tentang pencalonan capres/cawapres. Tapi kenapa harus pada tanggal itu? Apakah ini terkait dengan pertemuan SBY-JK di Cikeas beberapa waktu lalu yang diduga tidak menghasilkan kesepakatan yang maksimal?

Melalui Marzuki Darusman, hasil pertemuan SBY-JK itu terungkap. “Di pertemuan terakhir, ada 2 kesepahaman. Pertama, keduanya akan membentuk pemerintahan yang efektif dan kedua bekerjasama untuk menyusun kabinet. Jadi itu saja kesepahamannya,” kata Marzuki Darusman dalam jumpa pers kemarin.

Dua hasil kesepakatan itu bukan otomatis berarti SBY-JK akan berduet lagi pada Pilpres 2009. Namun tidak menutup kemungkinan SBY akan duet lagi dengan orang Golkar, meski bukan SBY. Nah, untuk yang satu ini, Marzuki Darusman mengatakan, Akbar Tandjung lebih punya dukungan dari basis massa Golkar.

Tidak diputuskannya capres/cawapres Golkar dalam pertemuan tadi malam, setidaknya mengindikasikan Golkar masih berharap akan ada deal-deal lagi dengan Demokrat terkait dengan siapa yang akan mendampingi SBY. Kalau deal-deal itu tidak berhasil, Golkar bisa menjalankan beberapa opsi lain.

“Pertama koalisi dengan Partai Demokrat, kedua kalau ditolak ya kita mandiri, ketiga lemparkan saja ke PDIP semua,” kata Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Uu Rukmana.

Tapi untuk maju sendiri sebagai capres rasanya tidak mungkin. Untuk berkoalisi dengan PDIP juga sepertinya hal yang mustahil. Langkah ‘pragmatis’ yang aman memang kembali berduet dengan Demokrat.

Mau dibawa kemanakah partai ‘uzur’ ini? Mengingat tradisi Golkar adalah tradisi kekuasaan, sepertinya partai ini enggan berpisah dengan partai pemenang Pemilu Legislatif. “Karena suara hanya 14 persen, dipastikan akan berkoalisi. Dan logikanya, supaya bisa menang pasti akan berkoalisi dengan partai pemenang,” ujar Ketua DPP Partai Golkar, Yorrys Raweyai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s