Hidup Sederhana sebagai Pilihan

Wilfred Hoffman mantan Dubes Jerman di Aljazair dan Maroko bercerita bahwa istrinya merasa “malu” setiap kali menghadiri acara pesta kalangan diplomat atau para pejabat di kedua negara itu. Pasalnya, istri Pak Hoffman tidak memiliki perhiasan dan baju yang gemerlap, mahal dan mewah seperti yang biasa dikenakan para ibu-ibu pejabat negara-negara Arab.

Kisah kecil yang diceritakan Wilfred Hoffman di atas menggambarkan fenomena yang terasa ironis dan paradoks: seorang Dubes/diplomat dari negara kaya yang hidup sederhana, dan di sisi lain, para dubes/diplomat dari negara miskin yang hidup mewah dan glamor. Hidup mewah di kalangan pejabat, memang tidak hanya terwakili oleh Negara-negara Arab saja, tetapi hampir bisa dilihat menjadi fenomena umum di seluruh Negara-negara berkembang/miskin, tak terkecuali pejabat pemerintah Buton Utara di Indonesia.

Kenapa ini terjadi? Ada beberapa faktor yang memotivasi hal ini :

Pertama, faktor mental kuli. Negara-negera berkembang rata-rata baru lima sampai enam dekade menikmati kemerdekaan dari penjajah Barat (plus Jepang bagi Indonesia). Mental dari anak jajahan yang paling kental adalah perasaan minder (inferiority complex) yang ekstrim yang untuk menutupinya adalah dengan cara hidup mewah dan berkesan kaya raya seperti gaya para penjajah itu.

Kedua, mismanajemen negara. Karena baru bisa mendapat kesempatan mengatur negara sendiri, maka kemampuan memanage negara juga kurang. Keluar masuk uang negara juga kurang terdeteksi. Dan KKN juga menjadi hal yang dianggap wajar dan malah terkadang “membanggakan”. Sama dengan pelacur yang “bangga” dengan profesinya karena telah berhasil mengangkat taraf hidup layak keluarganya.

Ketiga, rata-rata para calon pejabat, termasuk kita-kita para generasi muda ini, berasal dari keluarga miskin. Hidup miskin itu tidak enak, dan jarang orang yang bisa “menikmati”-nya. Ciri khas orang miskin umumnya selalu mimpi jadi kaya dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Karena itu, ketika mendapat kesempatan menjabat posisi basah, kita jadi ibarat singa lapar. Lapar memenuhi mimpi-mimpi waktu muda dengan segala cara. Seperti ketika kita berpuasa dan makan sepuas-puasnya ketika waktu berbuka sudah tiba.

Sekarang mari kita kembali pada Dubes Wilfred Hoffman. Dia dubes negara maju, gajinya pasti besar. Tapi kenapa dia hidup sederhana? Apakah dia tidak punya uang untuk menyenangkan istrinya? Atau apakah dia terlalu pelit untuk hidup mewah dan glamor?

Jawabnya jelas, tidak. Dia hidup sederhana bukan karena tidak punya duit, tapi karena ia memang “sengaja memilih untuk hidup sederhana”.

Jadi hidup sederhana sebagai pilihan yang membanggakan, bukan sebagai keterpaksaan. Dan mereka bangga dengan kesederhanaan itu. Banyak kalangan orang-orang di Negara-negara maju (pejabat maupun pebisnis) yang memilih hidup sederhana, karena mereka merasa hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat: kelebihan uang mereka disalurkan untuk yayasan2 pemberi beasiswa pada mahasiswa-mahasiswa internasional, untuk orang-orang miskin di Negara-negara berkembang, untuk berbagai penelitian, dan lain-lain.

Salah satu contohnya yang paling monumental adalah Albert Nobel. Inventor dan pemilik lebih dari 300 hak paten berbagai penemuan teknologi baru. Dia kaya raya. Tapi tak satupun hartanya dia wariskan ke anaknya. Sebaliknya, ia tumpahkan seluruh harta kekayaannya untuk Nobel Foundation, pemberi hadiah Nobel untuk para ilmuwan dunia yang berhasil meraih prestasi gemilang di bidang masing-masing. Albert Nobel sudah meninggal puluhan tahun lalu, tapi namanya selalu dikenang di seluruh dunia sampai sekarang. Kuncinya, karena ia memilih hidup sederhana.

Tulisan ini saya persembahkan buat siapa saja, khususnya pada rekan-rekan generasi muda seperti saya yang mungkin pada sepuluh tahun mendatang sudah menduduki berbagai posisi di pemerintahan atau menjadi pebisnis besar. Kalau kita beruntung secara materi, pilihlah hidup sederhana dan bangga dengan kesederhanaan itu. Kalau kita kurang beruntung, mari sama-sama bekerja keras untuk menjadi beruntung.

Jadi, harap tidak salah paham. Saya bukan mengajak Anda untuk hidup miskin seperti para sufi. Sebaliknya, saya malah mengajak Anda untuk berusaha sekeras mungkin untuk menjadi kaya (dengan cara yang halal tentunya), tapi tetap menjaga dan memelihara gaya hidup sederhana, bermartabat dan peduli pada yang membutuhkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s