Masyarakat Butur Harus “Sedekah Ego”

Ditengah memanasnya kondisi politik Butur saat ini, saya kembali menuangkan buah pikiran saya melalui media Opini Butur News semoga menjadi obat penenang bagi orang-orang yang gundah, penyejuk bagi orang-orang yang panas dan refleksi bagi orang-orang yang Egois.

Dari dulu saya suka dengan adagium Inggris “Simplify Life and Follow the Sun.” Sederhanakan masalah, nikmati gemericik air yang mengalir (terjemahan bebas).

Simplifikasi masalah tentu beda dengan over-simplifikasi atau terlalu menyederhanakan. Masalah yang kita hadapi sehari-hari akan selalu ada dan secara garis besar dapat dikategorikan dalam dua kelompok.

Pertama, masalah internal. Yakni masalah khas yang dihadapi setiap individu yang tak ada kaitannya dengan orang lain. Contoh, pedasnya kritik yang dilontarkan oleh teman, sahabat atau orang lain.

Kedua, masalah eksternal. Yaitu masalah sehari-hari yang berkaitan dengan interaksi individu dengan individu yang lain. Berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal umumnya adalah masalah kecil, namun tidak jarang itu berupa persoalan besar. Masalah eksternal kecil yang terjadi berulang-ulang juga biasanya akan berujung menjadi masalah besar. Kemampuan kita dalam menyaring mana masalah yang kecil dan mana yang besar akan sangat menentukan “karisma” kita sebagai individu di mata individu yang lain.

Masalah internal tentunya adalah masalah masing-masing individu. Tak ada seorang pun berhak ikut campur, kecuali apabila persoalan internal itu menyeberang garis batas dan menjadi problema eksternal. Sebagai contoh, apabila sikap individu “melanggar” undang-undang tak tertulis dalam komunitas lingkungannya.

Persoalan eksternal sama sekali berbeda. Di sini diperlukan pemahaman tinggi tentang hak dan kewajiban kita sendiri dan pada waktu yang sama, memahami hak dan kewajiban orang lain.

1. Standar minimal manusia yang “normal” yang berhak disebut “baik” adalah apabila dia menggunakan haknya sama takaran dan persentasenya dengan memberi hak orang lain.

Contoh, (a) apabila Anda bercerita sepanjang 5 menit, maka Anda berkewajiban memberi waktu yang sama untuk pendengar cerita Anda tersebut. untuk bercerita balik dan Anda menjadi pendengarnya. (b) Apabila Anda menggunakan hak untuk meledek teman baik Anda, maka Anda juga harus memberi hak yang sama pada teman Anda untuk meledek balik. Apakah teman Anda mau menggunakan haknya atau tidak itu soal lain.

2. Standar minimal individu yang berjiwa pemimpin adalah apabila individu tersebut lebih ingat pada apa yang mesti diberikan pada orang lain; bukan apa yang orang lain mesti berikan padanya. Memberi tidak dianggapnya sebagai pengorbanan atau aktivitas interaktif, tapi dianggapnya sebagai kewajiban satu arah baginya yang tak perlu menunggu balasan.

Memberi dalam bahasa hubungan interpersonal tentu saja bukan hanya dalam wujud materi, tapi yang terkadang justru lebih penting adalah memberikan ego. Dalam bahasa agama mungkin bisa disebut dengan sedekah ego.

Apa itu sedekah ego? Anda tentunya lebih paham. Tapi untuk lebih memudahkan, saya beri beberapa contoh di bawah:

(a) Apabila Anda berbuat kebaikan pada seseorang, tapi tidak ada balasan dalam bentuk apapun dan bahkan, terkadang, mendapat respons negatif. Tapi Anda tidak mengeluh atau tidak membahasnya sama sekali.

(b) Apabila Anda tidak membalas sikap yang menyakitkan dari teman Anda (yang sedang ‘menggunakan haknya’ itu). Sebaliknya, Anda justru tetap bersikap baik seperti biasa.

(c) Apabila Anda terus berkonsentrasi untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan manfaat bersama, tanpa menunggu apresiasi dari pihak manapun dan tanpa sepatah kata keluhan apalagi makian.

(d) Apabila Anda pejabat, maka Anda tidak hanya memaksimalkan amanah rakyat itu dengan, antara lain, memudahkan urusan rakyat yang memerlukan layanan Anda semudah-mudahnya, lebih dari itu Anda memanfaatkan amanah tersebut dengan melakukan hal-hal di luar tugas yang dapat bermanfaat bagi rakyat dan negara. Tanpa peduli, apakah segala hal yang baik yang Anda lakukan mendapat apresiasi rakyat atau tidak. Pada waktu yang sama, memberi ruang di hati Anda untuk mendengarkan kritik dan saran dari rakyat, menurut saya adalah sedekah ego terbesar seorang pejabat.

Sulit untuk menjadi pemimpin ideal, atau bahkan sekedar jadi manusia ‘baik’. Tapi, berkeingingan menuju pencapaian yang lebih tinggi, tidak hanya bidang akademis & jabatan tapi juga karakter, saya kira bukan sesuatu yang salah.

Iklan

2 thoughts on “Masyarakat Butur Harus “Sedekah Ego”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s