Susno Duaji, Pahlawan Sakit Hati

Judul di atas mungkin terasa provokatif dan kurang menghargai sosok pahlawan. Namun diakui atau tidak, kemunculan para pahlawan hampir selalu diawali keprihatinan. Tentu saja keprihatinan bisa bermacam-macam bergantung pada sebab yang melatarbelakangi, dan salah satunya bisa muncul dalam bentuk sakit hati. Perasaan sakit hati ini bisa muncul karena dijajah, dizalimi, disakiti, dipecat, bahkan mungkin hanya sekedar dinonjobkan. Pertanyaanya kemudian, bagaimana mungkin orang yang sakit hati bisa dianggap pahlawan ?

Sebelum membahas lebih jauh, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud merendahkan sosok pahlawan. Tulisan ini semata-mata untuk memberikan pandangan dari sudut yang berbeda terhadap sosok pahlawan, manusia terbaik yang seharusnya dihargai dan dihormati. Tentu saja hal ini berkaitan dengan pandangan beberapa orang yang mengaku pakar, ahli, pemerhati, pengamat, atau apapun sebutannya yang sering menyinggung-nyinggung predikat pahlawan saat mengomentari orang yang berusaha memperjuangkan suatu ‘kebenaran’. Contoh paling baru adalah pandangan terhadap orang yang bernama Susno Duadji, jenderal polisi bintang tiga yang dinonjobkan karena kasus cicak vs buaya. Ontran-ontran (tindakan) Susno yang mengumbar keburukan-keburukan di instisusinya (Polri) dimaknai secara berbeda-beda. Beberapa orang memandangnya sebagai pahlawan, sebagian yang lain melihatnya sebagai barisan sakit hati, bahkan ada yang memberikan label sebagai penghianat.

Pemerhati masalah militer LIPI Hermawan Sulistyo dalam sebuah diskusi menganggap Susno tidak layak disebut pahlawan, menurutnya Susno hanyalah orang yang sakit hati lantaran karirnya mentok dan dinonjobkan (DetikNews, 20 Maret 2010). Bahkan dalam sebuah rapat dengar pendapat umum antara Susno Duadji dengan Komisi III DPR RI, politisi Demokrat Ruhut Sitompul menjuluki Susno sebagai pendekar mabuk, alasannya karena Susno baru berani membongkar mafia pajak (makelar kasus) ketika sudah terdepak dari jajaran pejabat Polri.

Kalau pembaca beranggapan bahwa tulisan ini hanyalah pembelaan terhadap Susno Duadji, tentu telah terjadi salah persepsi. Karena tulisan ini – yang saya sebut sebagai orasi – adalah sebuah sudut pandang lain (esensi) yang sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru, namun seringkali dilupakan.

Untuk sekedar mengingatkan, ada sebuah film kepahlawanan yang cukup menarik berjudul Braveheart. Film yang dibintangi Mel Gibson ini diangkat dari kisah perjuangan rakyat Skotlandia di abad ke-13 dalam memperjuangkan hak-haknya dan menentang perjajahan Inggris, yang kala itu dipimpin oleh Raja Longshanks. Di awal-awal film, digambarkan tentang kesewenang-wenangan para tirani terhadap penduduk Skotlandia. Namun William Wallace (tokoh cerita), salah satu penduduk asli Skotlandia digambarkan kurang begitu peduli dengan keadaan sekitarnya. Bahkan ketika diajak untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah, sama sekali tidak tertarik dan memilih untuk hidup seperti kebanyakan penduduk jajahan, cuek dan mengikuti aturan penjajah.

Dikisahkan bahwa para penjajah cukup direpotkan oleh para pemberontak. Untuk menekan perlawanan, penjajah kemudian membuat aturan sesukanya dan menjadi bagian dari titah raja (penjajah) yang tidak boleh ditentang. Salah satunya dibuat undang-undang perampasan mempelai wanita. Ketika ada penduduk asli yang menikah, maka setelah resmi menjadi pasangan pengantin dan pesta pernikahan usai, pengantin wanita langsung diambil oleh para penguasa wilayah untuk melayani nafsu bejatnya. Undang-undang ini merupakan peraturan yang sangat merendahkan martabat dan keji. Karena itulah William Wallace saat menikahi Marion dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui para penjajah Inggris. Namun akhirnya ketahuan juga, William Wallace dan Marion pun melarikan diri, sayangnya Marion tertangkap dan kemudian dibunuh di tanah lapang. Pembunuhan ini selain untuk memberikan pelajaran kepada rakyat yang lain, juga untuk memancing William Wallace agar menyerahkan diri karena dianggap telah membangkang terhadap peraturan yang ada.

Kisah selanjutnya dibangun mengikuti sepak terjang sosok William Wallace. Mengetahui istri yang baru dinikahinya dibunuh, dengan segala kebencian, sakit hati dan dendam kesumat, dia kemudian melakukan pembalasan dan bergabung dengan para pemberontak. Sakit hatinya menggelorakan semangat pantang menyerah dan tidak takut pada siapapun, hingga akhirnya dia diangkat menjadi pemimpin para pemberontak. Tentu saja peperangan demi peperangan yang dilakukannya tidak melulu berkaitan dengan kematian istrinya. Dia telah menjelma menjadi patriot bagi bangsanya yang tertindas dan berjuang sampai mati demi kemerdekaan. Namun kematian istrinya tetaplah pemicu keberaniannya, pemicu kehormatannya, pemicu kesadaran dan perasaan patriotiknya.

Film yang diangkat dari kisah nyata di atas memberikan pelajaran dan pandangan sangat realistis, bahwa tidak penting latarbelakang apa yang membuat orang berani memperjuangkan kebenaran. Sesungguhnya keberaniannya itulah yang paling penting. Karena keberanian pasti memunculkan resiko dan pengorbanan. Sama seperti sebuah peribahasa, jangan melihat siapa yang bicara, tapi simak apa yang dibicarakan. Jika itu sebuah kebenaran, why not?

Saat ini Republik Indonesia memerlukan orang-orang yang berani memperjuangkan kebenaran. Negeri ini butuh orang yang berani mengambil resiko untuk mengungkap kebobrokan dan kebusukan yang telah begitu mengakar, terutama pada lembaga-lembaga negara dan birokrasi pemerintahan. Sebagaimana dikatakan oleh Mahfud MD, negara ini sudah rusak. Korupsi terjadi dimana-mana, mulai pejabat, politisi, polisi, jaksa, hakim, pengurus sepakbola, hingga takmir masjid pun korupsi. Dan ironisnya, korupsi justru merajalela dan menjadi penyakit setelah kita melakukan amandemen UUD 1945 selama empat kali sejak tahun 1999 hingga 2002 (5 April 2010).

Maka menjadi tidak penting menebak-nebak motivasi siapapun yang berani mengungkap kebenaran. Karena kalau bicara soal motivasi, niat, maksud atau keinginan, tentu hanya dia dan Tuhan yang tahu. Motivasi itu wilayah yang menjadi urusan hati dengan Yang Maha Kuasa. Sesama manusia, kita tidak akan pernah bisa mendalami isi hati seseorang. Semakin kita menebak, justru semakin tampak bodoh dan amatir.

Jika kita membaca kisah perjuangan pangeran Diponegoro, peperangannya dimulai karena Belanda berusaha merampas tanah milik pribadinya, bahkan Belanda juga berencana mengusik makam leluhur pangeran Diponegoro untuk dijadikan jalan. Pangeran Diponegoro pun marah kemudian mencabut patok-patok tanah yang dipancangkan Belanda di tanahnya dan diganti dengan tombak. Situasi inilah yang kemudian memicu meletusnya perang Jawa yang digelorakan oleh pangeran Diponegoro selama lima tahun. Lebih dari 200 ribu orang gugur dan tidak kurang 15 ribu serdadu Belanda tewas dalam peperangan tersebut. Membaca sejarah pangeran Diponegoro, siapapun tidak berhak membicarakan motivasi sang pangeran dalam menggelorakan perjuangannya. Apapun motivasi sang pangeran, beliau tetaplah pahlawan besar pada zamannya.

Dalam konteks pemberantasan mafia hukum, Indonesia justru membutuhkan pemberani semacam Susno, karena disamping berani nekat juga mengetahui secara persis apa yang terjadi di institusinya. Namun sebenarnya ‘model’ seperti Susno justru sangat susah dicari, karena selain beresiko dibenci teman-teman sendiri, resiko terburuknya bisa dibunuh bahkan bisa terseret karena mungkin (disengaja maupun tidak) pernah menjadi bagian dari jaringan mafia. Itulah mengapa orang memiliki kecenderungan menutup-nutupi keburukan yang ada di institusinya, meskipun sudah pensiun atau bahkan dipecat dengan tidak hormat sekalipun. Dalam konteks ini, apapun motivasinya, orang seperti Susno Duadji telah menunjukkan keberanian sebagaimana yang dimiliki para pahlawan.

Barangkali kita mesti berharap pada setiap lembaga negara terutama yang rawan korup, ada orang yang dipecat atau dinonjobkan, lalu sakit hati dan berani mengungkapkan kebobrokan yang ada di lembaganya. Siapa yang tahu Cirus Sinaga yang telah dicopot dari jabatannya, berani melakukan hal yang sama di Kejaksaan. Karena saat ini hanya itulah satu-satunya cara yang terbukti efektif dapat memberantas mafia hukum. Kebanyakan yang lain hanya berupa teori dan retorika belaka. Bahkan seringkali hanya berupa wacana-wacana yang didiskusikan, diseminarkan, kemudian dibukukan, bahkan dibuat menjadi undang-undang yang implementasinya hanyalah macan kertas.

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan, bagaimana mungkin orang yang sakit hati bisa dianggap pahlawan ? pertanyaan ini tentu saja tidak penting untuk diperdebatkan. Karena jawabannya mungkin akan menjadi sebuah pertanyaan lain, seperti; mengapa para pahlawan yang sama-sama kita hormati itu berani mengorbankan jiwa raga ? Tentu saja jawabannya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang lain, bertele-tele, panjang kemana-mana dan melelahkan. Jika diteruskan, maka pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang terlontar mungkin akan menjurus pada dugaan-dugaan, tuduhan-tuduhan, bahkan bisa mengarah pada fitnah. Maka pembahasan soal motivasi (niat) menjadi tidak penting, karena penghargaan yang kita berikan sesungguhnya adalah tentang keberaniannya, bukan yang lain.

Diluar keberaniannya, pembahasan sosok pahlawan menjadi tidak berarti, karena setiap pahlawan selalu akan dipersepsikan baik dan buruk, tergantung dari mana melihatnya. Bagi rakyat Skotlandia William Wallace adalah pahlawan, namun bagi penjajah Inggris Wallace adalah penjahat pemberontak. Begitupun pangeran Diponegoro, rakyat Indonesia menghormatinya sebagai pahlawan besar, namun bagi penjajah Belanda pangeran Diponegoro hanyalah ekstrimis pemberontak. Demikian juga Xanana Gusmao, bagi rakyat Timor Leste dia adalah pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, namun bagi Indonesia saat itu Xanana adalah gembong pemberontak.

Keberanian adalah sesuatu yang agung karena tidak semua orang memilikinya. Keberanian mengungkap kebenaran juga merupakan hak asasi manusia, sehingga siapapun tidak berhak menghalangi bahkan mencelanya. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi pahlawan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun bagi bangsanya. Disebut pahlawan atau tidak, siapapun yang berani memperjuangkan suatu kebenaran dan berani mengambil segala resiko, bahkan yang terburuk sekalipun, dia adalah orang yang seyogyanya diapresiasi dan dihargai atas apa yang telah dia lakukan. Akhirnya, kalau kita sendiri tidak berani melakukan seperti apa yang dilakukan orang-orang yang berani, sangat naif kalau membicarakan sesuatu di luar keberaniannya kan ?

About these ads

8 comments on “Susno Duaji, Pahlawan Sakit Hati

  1. KASUS SUSNO DUAJI HARUS JADI PELAJARAN UNTUK PERUBAHAN UNDANG-UNDANG AGAR PENANGANAN POLISI NAKAL YANG MELAKUKAN PELANGGARAN DISIPLIN DAN KEJAHATAN DITANGANI TIDAK OLEH POLISI. SELAMA INI PENANGANAN POLISI NAKAL OLEH INTITUSINYA SENDIRI BANYAK TIDAK SELESAI DAN TIDAK ADIL DAN TUNTAS SELALU ADA INDIKASI PENUTUPAN KASUS, ATAU MANIPULASI BAP KEJAHATAN OKNUM POLISI. sETELAH MEMBACA MEDIA DAN MENDENGAR CERITA PENEMBAKAN ISTRI MUDA OLEH OKNUM POLISI, KAPOLRES KAB TASIKMALAYA SEPERTINYA MAU MELINDUNGI DAN MENUTUPINYA DENGAN PERNYATAAN, PENEMBAKAN TIDAK DISENGAJA PADAHAL SAKSI PADA TAU ITU DITEMBAK, ADA KEMUNGKINAN PIHAK ISTRI MUDA SITEKAN UNTUK MENCERITAKAN TIDAK SEBENARNYA YANG TERJADI. INDIKASINYA JELAS NIKAH SIRIHNYA DIPAKSA DENGAN DITAKUTI AKAN DITEMBAK MENURUT ORANG TUA KORBAN, DAN KALAU BERTENGKAR SELALU DIANCAM AKAN DITEMBAK (PENGAKUAN ORG TUA KORBAN)tOLONG DISELIDIKI ULANG JANGAN OLEH INSTITUSI KEPOLISIAN DAN KAPOLRESNYA DISELIDIKI DAN HARUS DIADILI. PIHAK KORBAN DAN KELUARGANYA DIAMANKAN LEMBAGA LAIN YANG INDEVENDEN. PASTI INI TERJADI DALAM KASUS-KASUS LAINNYA. HUKUM APA INI KACAU HUKUM BEGINI YANG SELALU BERDALIH MENJAGA NAMA BAIK KORPS WALAUPUN PIDANA

  2. buatMS lubis. mengapa anda tersinggung ada apa dengan anda, ini pendapat mau terima silahkan mau ga silahkan. kalau anda bukan bagian itu ga perlu tersinggung. silahkan anda membuat komentar kita kalangan akademisi, kalangan pendidikan jawaban anda harus berupa pemaparan ilmiah

  3. Apa yg dilakukan saat ini pak SUSNO, tidak akan perna dilakakukannya seandainya masih menjadi pejabat di POLRI, jadi saya kira pertanyaan setiap orang yg tdak setuju dengan tindakan pak Susno adalah hal yg sangat naif. Saya kira tulisan ini, memberi kita sebuah pencerahan dan mencoba untuk sedikit lebih bijak melihat tindakan paak SUSNO.

  4. Masih ingat Tokoh Hakim seperti Benyamin Mangkudilaga dan Bismar … ?? Mereka menegakkan kebenaran dan memberi contoh yg benar pada saat menjabat.
    Beda dengan lakon kita…”Susno Duaji”,… selalu muncul di TV seperti selebritis… mengusik POLRI.

    Jangan gara2 Nila setitik, rusak susu sebelanga…
    Ingat nggak dgn Prestasi POLRI al. :
    1. Menangkap Teroris Dr.Azhari dan Noordin M.Top
    2. Pelaku Bom
    3. Kejahatan perbankan. Pabrik Shabu, Judi besar di Hotel.. dll.
    Sudahlah, biar Susno Duaji agar diselesaikan secara internal POLRI aja…. jangan terpancing kawan2….Bravo

    • buat suryanto usman, itu pendapat silahkan bpak beda pendapat nanti pub;lik yng menilai, memang saya beda pendapat mengenai pidana, menurut saya kalau suidah masuk pelanggaran pidana harap jangan ada penanganan oleh intansi yang sama harus dari berbagai kalangan yang independen

  5. SUSNO DUAJI PAHLAWAN NEKAD/SEJATI/PENUH RESIKO
    Saatnya kita bangsa indonesia memberikan dukungan pada setiap orang yang akan membela dan menegakkan kebenaran, tidak ad kesiangan tidak ada keterlambatan tidak pahlawan sakit hati tidak ada pahlawan yang penuh resiko karena kebenaran selalu banyak lawan yang ingin mempertahankan kedolimannya. Judul tepat SUSNO PAHLAWAN SEJATI KARENA BARU ADA KESEMPATAN, Menilai pahlawan jangan menilai terlambat karena orang jadi benar dimana ada kesempatan waktu yang harus dia tampil sebagai pahlawan juga pahlawan tidak ada yang bersih seratus peresen tapi menilai pahlawan bisa dilihat dari sisi besarnya apakah kebenarannya yang paling banyak atau kesalahannya yang paling banyak juga pahlawan pemberantasan korupsi bukan berarti bisa menghapuskan korupsi karena korupsi akan selalu ada sampai kiamat tapi pahlawan pemberantasan korupsi yaitu dapat meminilisir korupsi sehingga presentase tingkat koruipsi menurun, menekan tingkat korupsi sewrendah-rendahnya.

    seharusnya mari kita usul kapolri harus diganti karena menurut persi saya bermain sandiwara dalm pemberantasan korupsi, sebab bukannya memanpaatkan susno untuk melacak dan membongkar jaringan-jaringan korupsi sumber dari susno, justru sebaliknya langkah kapolri dan gerakan kapolri justru ingin membungkam susno dan menyeret susno agar terjerat hukum sehingga pemberantasan korupsi akan tersendat dan putus , karena sumber data dan faktanya dijerat dengan berbagai dalih pelanggaran kode etik, menerima suap padahal menurut saya harus dikesampingkan dulu agar pak susno duaji bisa mengungkapkan semuanya data yang dia ketahui nanti masyarakat akan menilai apakah susno itu pahlawan atau penjahat juga masyarakat juga akan melihat banyak mana dosa susno pada negara dan rakyat dengan jasa susno pada negara dan rakyat nanti kalau susno benar menerima suap dari sahril johan 500 juta (itupun kalau tidak ada rekayasa antara penyidik dengan sahril)dan bandingkan dengan besarnya uang yang diselamatkan oleh negara yang mungkin teriliunan berkat jasa susno, maka dari perbandingan tersebut, rakyat, para pakar hukum penegak hukum akan menilai bahwa susno seorang yang berjasa atau seorang penghianat seorang penjahat daripada orang yang yang membela koruptor tidak ada jasa sedikitpun pada negara dan rakyat.

    TIDAKA ADA KATA TERLAMBAT DALAM MEMBELA KEBENARAN
    Pak susno saya bangga pada anda yamg terlalu sangat berani dan penuh resiko, karena dalam agamapun tidak ada kata terlambat dalm berbuat baik dan bertobat daripada orang yang tidak berbuat sama sekali karena manusia seharusnya seperti susno dia mengaku dalam kasus KPK karena dia bagian dari setan. Dalam agama islam dosa sebesar apapun tidak kata terlambat kalau mau bertobat dan alloh akan mengampuninya, jangankan manusia biasa tigkat rosul alloh juga tidak akan bisa membuat manusia naik semua karena dinamika dunia telah ditakdirkan tuhan harus ada dua sisi yang berlawanan sampai hancurnya dunia yang pana ini.

    KESALAHAN PAATAL BILA KAPOLRI TIDAK DIGANTI PADA SAAT MOMENTUM YANG TEPAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI DISIA-SIAKAN
    Kesempatan emas bangsa indonesia untuk memberantas korusi karena ada seorang jendral yang berani siap menerima resiko dan tau mapia-mapia koruptor karena dia mantan kabagreskrim yang kesaksiannya bisa diandalkan dan mungkin sangat akurat karena pernah bergelut dalam dunianya, seharusnya masyaraat waktunya mendukung susno dan mengenyampingkan dulu masalah-masalah kesalahan susno agar momentum ini tidak terlambat dan mengawal susno agar tidak dapat dibungkam sehuingga masyarakat nantio bisa menilai antara kebaikan dan kesalahan susno dari dua sisi tersebut mana yang lebih besar

    KESALAHAN PATAL BILA SUATU KASUS DITANGANI OLEH INTANSINYA SENDIRI TIDAK AKAN OBJECTIF DAN ADA USAHA MENJAGA NAMA BAIK KORP ATAU INTANSI PADAHAL MENAJAGA NAMA BAIK DOSA OKNUM
    Menurut saya kalau ingin memperbaiki negri jamgan penangana pelanggaran oleh suatu intansi atau lembaga ditangani oleh bagian lembaga tersebut karena ada pertemanan yang tidak akan bisa memperosesnya bahkan pengawas penyidik pemeriksa juga ada beban pskhologis dan kemungkinan dirinya juga takut suatu saat ada pergeseran jabatan dan sebaliknya dia akan diperiksa oleh orang yang saat ini diperiksanya. Seharusanya kalau sudah menyangkut intitusi dibentu tim khusus dari berbagai kalangan independen agar tidak ada rekayasa untuk merekayasa kasus. Conto kasus oknum polri jangan tidak ditangani polri, kejaksaan jangan ditangani kejaksaan, kasus hukum jangan ditangani dari intansi pengadilan. KESALAHAN PATAL HUKUM TIDAK TEGAKKORUPSI MERAJALELA KARENA INSPEKTORAT PROPAM IRJEN MENANGANI INTANSINYA SENDIRI KALAU BOLEH USUL DIBUBARKAN ATAU SISTEMNYA YANG DIRUBAH

    • PENDAPAT ANDA SUBJECTIF SEKALI, BICARA FAKTA DAH JELAS BAHWA MAIA KASUS BENAR-BENAR TERJADI, RAKYAT PASTI MEMBELA INSTITUSI POLRI ITU WAJIB BAGI SEMUA WARGA NEGARA, TAPI JANGAN MEMBELA OKNUM PELAKU PELANGGARAN, ANDA TIDAK BERBUAT SAMA SEKALI TRAPI ANDA MELAKUKAN PEMBELAAN, APA YANG DIPERBUAT SUSNO MEMILIKI KEBAIKAN WALAUPUN MUNGKIN DIA ADA KEKURANGAN, SEBAGAI WARGA YANG TIDAK MUNAFIK KALAU SALAH BILANG SALAH TERMASUK SUSNO,TAPI KALKAU BENAR ITU BENAR DAN BERJASA PADA NEGARA DARIPADA ORANG MUNAFIK YANMG TIDAK BERBNUAT SAMA SEKALI TAPI KEBERANIAN SUSNO TIDAK PERNAH ADA DILAKUKAN OKNUM POLRI, BENAR TIDAKNYA SAKIT HATI BUKAN URUSAN KITA TAPI URUSAN HATI HUKUM BICARA FAKTA BUKTI YANG ADA,SAYA MENDUGTA ANDA EMOSIONAL SEKALI ADA APA DENGAN ANDA YANG MUNAFIK ITU SIAPA ANDA ATAU YANG MENDUKUNG PEMBERANTASAN MAFIA. SANGAT SALAH SEKALI PENANGANAN DANA PEMILU DIJAWA BARAT SEHARUSNYA DIAUDIT DAN DIPERIKSA SELURUH POLDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s