HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP FREKUENSI PEMBERIAN ASI ESKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MATA KOTA KENDARI TAHUN 2009

Untuk mencapai Indonesia sehat 2010 tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia cukup berat. Dalam hal keadaan gizi masyarakat, meskipun terdapat kemajuan tetapi empat masalah gizi utama yang sejak lama ada sampai saat ini masih merupakan agenda yang belum terselesaikan. Keadaan gizi masyarakat merupakan basis dan persyaratan bagi pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Depkes RI, 2005)

Masalah gizi kurang dan gizi buruk pada Balita, Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukan meskipun selama 10 tahun terjadi penurunan gizi kurang dari 37,5% tahun 1989 menjadi 26,4% tahun 1999, namun terjadi prevalensi gizi buruk dari 6,3% tahun 1989 menjadi 8,1% tahun 1999. Pada tahun 2000, perkembangan keadaan gizi cukup menggembirakan, gizi kurang menurun menjadi 24,6 % begitu pula dengan gizi buruk menjadi 7,5 % (Depkes.RI, 2003)

Jika diamati lebih lanjut terungkap sebenarnya sejak tahun 1989 sampai dengan tahun 2000 tidak terjadi penurunan jumlah Balita penderita gizi buruk. Pada tahun 1989 dengan total penduduk 177,6 juta jiwa terdapat Balita gizi buruk sebanyak 1,343 juta anak, sementara pada tahun 2000 dengan total penduduk 203,4 juta orang terdapat 1,348 juta Balita gizi buruk (Ikhwandi, 2000)

Berdasarkan uraian di atas jelas diperlukan upaya kesehatan dan gizi yang mencakup seluruh kehidupan sejak anak dalam kandungan karena terkait erat dengan kelangsungan hidup anak (child survive), perkembangan anak (child development) dan perlindungan anak (child protection). Anak menjadi titik sentral, karena sebagai generasi penerus anak harus berkualitas dan siap untuk melahirkan generasi yang lebih berkualitas lagi. Oleh karena itu peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sebagai makanan paling sempurna bagi bayi merupakan suatu upaya nyata dalam mewujudkan kesehatan dan gizi masyarakat khususnya bayi dan anak Balita (Depkes RI, 2003).

Menurut hasil penelitian pusat studi kebijakan pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap pemberian ASI di Indonesia baik dari segi pelaksanaan, kebijakan dan program diketahui bahwa pencapaian ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan adalah 52 % (SDKI, 2000). Meskipun lebih tinggi dari hasil pencapaian SDKI tahun 1994 yaitu 47,3 % tetapi lebih rendah dari tahun 1991 yaitu 52,5 %. Sementara itu pencapaian pemberian ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan adalah 42,3 %. Pencapaian ini menurut kriteria World Health Organization (WHO) masuk dalam kategori tidak mencukupi (Ikhwandi, 2000).

Suatu hal yang menggembirakan adalah bahwa hampir seluruh bayi yaitu 95,4 % di perkotaan dan 96,7 % di pedesaan pernah disusui dan terus diberikan sampai anak berusia 23,9 bulan. Pencapaian 23,9 bulan menurut kriteria (WHO) masuk dalam kategori baik. Gambaran ini menunjukan bahwa kita perlu berkonsentrasi penuh untuk menyukseskan peningkatan pemberian ASI sehingga target sebesar 80 % sebagaimana yang ditetapkan oleh Depkes RI dapat dipenuhi. Sementara di Sulawesi Tenggara, menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2006, jumlah ibu menyusui yang memberikan ASI ekslusif kepada bayinya sampai dengan 6 bulan adalah 65,93%. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 56,6% dan Kota Kendari menduduki urutan kedua tertinggi dalam pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan 9 kabupaten atau kota lainnya di Provinsi Sulawesi Tenggara yakni sebesar 73,4% (Dinkes Sultra, 2007).

Dari 11 Puskesmas di Kota Kendari, Puskesmas Mata merupakan salah satu Puskesmas yang menduduki urutan terendah dalam hal pemberian ASI eksklusif. Hal ini ditunjukan dengan data tahun 2007, dimana dari 83 ibu menyusui 54% (45/83) tidak memberikan ASI kepada bayinya selama 6 bulan dan 67% (30/45) adalah ibu pekerja. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan pada tahun 2006, dimana dari 96 ibu menyusui 68% (65/96) diantaranya tidak memberikan ASI sampai dengan 6 bulan dan 60% (39/65) adalah ibu-ibu pekerja. Angka ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan target yakni 80% (Puskesmas Mata, 2008).

Perilaku pemberian ASI kepada bayi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan gizi pada bayi dan balita. Formula makan dan minum yang terbaik bagi balita terutama bayi adalah ASI. Kebiasaan menyusui pada bayi, terutama ASI eksklusif akan meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu pertumbuhan bayi dan balita.

Data prevalensi gizi buruk untuk Kota Kendari tahun 2005 sebanyak 104 kasus (0,4%) dari 23.010 jumlah balita. Dari 10 Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara, Kota Kendari berada pada urutan ke 5 sebanyak 26 kasus (3,2%) dari 803. Sedangkan untuk tahun 2006 dari bulan Januariā€“Juni sebanyak 314 kasus (0,9%) dari 33.625 jumlah balita (Dinkes Kota Kendari, 2007).

Masalah gizi, pada hakekatnya disebabkan pada masalah perilaku, khusunya pengetahuan tentang gizi, sedangkan pengetahuan itu sendiri berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan. Dengan demikian, upaya untuk mengatasi masalah ini dilakukan dengan pemberian informasi tentang perilaku gizi yang baik dan benar disamping dengan pendekatan lainnya (Depkes RI, 2006).

Sedangkan untuk masalah pemberian ASI terkait dengan masih rendahnya pemahaman ibu, keluarga dan masyarakat tentang ASI. Tidak sedikit ibu yang masih membuang kolostrum karena dianggap kotor sehingga perlu dibuang. Selain itu, kebiasaan memberikan makanan dan atau minuman secara dini pada sebagian masyarakat juga menjadi pemicu dari kekurang berhasilan pemberian ASI eksklusif. Ditambah lagi dengan kurangnya rasa percaya diri pada sebagian ibu untuk dapat menyusui bayinya. Hal ini mendorong ibu untuk lebih mudah menghentikan pemberian ASI dan menggantinya dengan susu formula (Azwar, 2003).

Pendidikan seorang ibu yang rendah memungkinkan ia lambat dalam mengadopsi pengetahuan baru, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan pola pemberian ASI.

Berdasarkan uaraian di atas, penulis akan melaksanakan penelitian tentang hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap ASI dengan frekuensi pemberian ASI esklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2009.

Bab-I

Bab-II

Bab-III

Daftar Pustaka & Kuisioner

About these ads

27 comments on “HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP FREKUENSI PEMBERIAN ASI ESKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MATA KOTA KENDARI TAHUN 2009

  1. saya minta referensi hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan Yg mengatakan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan.
    Kirim di e-mail saya eriskusmirandemanto@yahoo.com
    saya ujian karya tulis ilmiah 3 hari lg. Ditngu ya pak. Trima kasih

  2. saya butuh kti hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu terhadap tidak terlaksananya Asi Ekslusif, bisa bantu saya?

  3. saya minta tolong bisa dikasih data mengenai pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan pemberian ASI eksklusif… untuk keperluan KTI… terima kasih…..

  4. (Koreksi),…Sebelumnya maaf,.. apakah memang sesuai dengan Profil Dinkes Kota Kendari Alinea ke 7 yaitu …
    “Dari 11 Puskesmas di Kota Kendari, Puskesmas Mata ……..dst coba cek di Profil Dinkes Kota 2007,.. trima kasih,.. maaf hanya koreksi,…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s